Perancis Melarang Drama Anti-Islam Tahun 1890 Setelah Ada Penentangan Dari Khilafah Utsmani

Henri de Bornier, seorang penyair dan dramawan Perancis menulis drama bernuansa anti-Islam yang berjudul “Mahomet (Muhammad)” pada tahun 1889. Perdana Menteri Prancis Charles de Freycinet melarang drama itu pada tahun 1890 setelah ada penentangan dari Khilafah Utsmani.

“Bornier sendiri merupakan korban dari prasangka buta dan tidak beralasan kaum Muslim berkaitan dengan dramanya yang berjudul Muhammad itu. Mereka sedang berlatih drama pada tahun 1889 ketika sebuah surat kabar Turki memberitakan dari sumber berita jurnal Prancis tentang adanya rencana pergelaran drama itu. Kementrian Luar Negeri Perancis meyakinkan duta besar Turki di Paris, Es’at Pasha, bahwa drama itu bukan merupakan serangan terhadap Nabi Muhammad dan menghargai keyakinan kaum muslim. Bornier menunjukkan bahwa drama ta’ziya Persia atau drama yang berisi kesengsaraan yang menggambarkan wafatnya Nabi Muhammad maupun juga kematian para mujahid Syi’ah secara rutin telah dipertunjukkan, dan dia menawarkan pelarangan atas karyanya yang sedang dimainkan di Aljazair dan Tunisia. Namun, argumen itu masih belum berhasil untuk memuaskan otoritas Turki, dan pada tahun 1890 Kepala Pemerintahan Perancis, Freycinet, melarang pertunjukkan drama berjudul “Muhammad” di Perancis, larangan yang, seperti dilaporkan, menyenangkan Sultan Abdul Hamid II. Memang harus diakui bahwa tidak dapat disangkan umat Islam akan menganggap drama itu sebagai penghinaan di mana Nabi Muhammad digambarkan melakukan bunuh diri karena seorang wanita dan karena perasaan rendah diri atas agama Kristen, tetapi tidak ada bukti bahwa baik Duta Besar Turki atau Sultan telah menyaksikan drama itu, apalagi membacanya, ketika mereka pertama kali mengajukan keberatan atas hal itu. Menyerahnya Pemerintah Perancis atas tekanan Turki ini adalah hal yang masuk akal disebabkan oleh Martino hingga situasi politik kontemporer masa itu, karena pada tahun 1889 Kaisar Jerman William II memulai perjalanannya ke Istanbul dan Timur Dekat, dan Prancis takun untuk melakukan apapun yang mungkin mendorong Turki jatuh kedalam pangkuan Jerman, sedangkan kepekaan atas banyaknya warga Prancis Muslim di Afrika Utara juga harus telah menjadi pertimbangan. Baru pada tahun 1896, kutipan atas drama Muhammad ditmapilkan kepada publik dalam suatu gubahan yang khusus dibuat untuk deklamasi teater. Sejak zaman Bornier itu, tidak ada dramawan besar Eropa yang tampaknya telah memainkan drama tentang kehidupan Nabi. “

Sumber: C.E. Bosworth, ‘Sebuah Dramatisasi atas Kehidupan Nabi Muhammad: Drama ‘Mahomet’ karya Henri de Bornier, Numen, Vol. 17, Fasc. 2 (Agustus, 1970), hal 116

Khilafah di masa mendatang akan menggunakan semua sumber daya politik, ekonomi dan militernya untuk melindungi kehormatan Nabi Muhammad SAW dan semua nabi lainnya termasuk Adam, Nuh (Nuh), Musa (Musa) dan Yesus putra Maryam (Isa bin Maryam) alaihi salam.

sumber: khilafah.com

Iklan

Belajar dari Pengorbanan Ummu Imaroh

Pada setiap Bulan Dzulhijjah, umat Islam selalu diingatakan tentang hakikat pengorbanan. Tentu saja, karena pada bulan ini terdapat hari raya Idul Adha yang dilatarbelakangi oleh sikap pengorbanan Nabiyullah Ibrahim As. dan Ismail As. Kisah pengorbanan keduanya senantiasa abadi, hingga tak satu pun jiwa orang-orang yang beriman kepada Allah SWT melewatkan peristiwa paling spektakuler di dunia tersebut.

Membicarakan kisah pengorbanan, khususnya bagi muslimah, tentu bisa digali dari berbagai peristiwa baik yang dialami para nabi, shahabat atau pun orang-orang shalih di masa lalu. Terlebih, kehidupan umat Islam di awal pertumbuhannya penuh dengan lika-liku yang tak lepas dari pengorbanan kaum perempuan. Salah satu sosok pahlawan perempuan di masa Nabi Muhammad Saw. adalah Nusaibah Binti Ka’ab ra. Jiwa pengorbanannya menjadikan setiap orang yang menelurusuri sejarah peri kehidupannya, tertegun takjub, bahwa ternyata seorang perempuan mampu menjadi orang terkemuka di hadapan Nabi dan umat Islam pada masa itu. Tulisan berikut akan memaparkan bentuk pengorbanan salah seorang shahabiyat Nabi Saw. tersebut.

Keimanan yang Lurus

Dia bernama Nusaibah Binti Ka’ab bin Amru bin ‘Auf al shohabiyyah al Fadhillah al Mujahidah al Anshoriyyah al Khazrajiyyah. Ummu Imaroh adalah julukan bagi wanita mulia ini. Beriman di kala kebanyakan orang mengingkari ajaran Nabi Muhammad Saw. adalah perkara yang tidak mudah. Namun, demikianlah yang dilakukan Ummu Imaroh kala itu. Suatu saat beliau menyimak paparan yang disampaikan suaminya, Zaid Bin Ashim yang baru saja menerima dakwah Islam dari Mush’ab Bin Umair. Zaid menceritakan tentang seorang Rasul yang diutus dari kalangan Quraisy dan menyeru kepada manusia untuk beriman kepada Allah SWT. Dakwah sang Rasul yang begitu tegar dan berani meski mendapatkan tantangan yang luar biasa pun disampaikan Zaid dengan penuh keyakinan. Ia pun menceritakan betapa yang disampaikan Mush’ab Bin Umair tersebut telah membuat dirinya takjub hingga mengimani ajaran Rasulullah Saw.

Saat itulah hati Ummu Imaroh bergetar. Beliau tak dapat menyembunyikan bisikan hati kecilnya untuk turut mengimani apa yang dibawa Rasul tersebut. Tak ada alasan untuk menolak, tak ada keberatan untuk meningggalkan, maka Ummu Imaroh selanjutnya menyatakan, “Saya beriman kepada Allah sebagai ilah (Tuhan) dan Muhammad sebagai Nabi”. Dengan demikian Ummu Imaroh telah membuat keputusan awal yang paling baik dan menentukan sejarah kehidupannya kelak. Beliau mulia karena memilih Islam.

Itulah pengorbanan pertama Ummu Imaroh. Beliau rela mengubur kesombongan yang biasanya ada pada manusia tatkala diseru untuk meninggalkan keyakinan lamanya. Kondisi seperti ini tentu jarang dijumpai saat ini. Bahkan tak sedikit dijumpai muslim yang tidak rela meningalkan keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Islam. Mereka bersyahadat namun mengemban sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Dan itu terjadi karena mereka tidak mau menanggalkan kesombongan dirinya; merasa memiliki kehidupan atau merasa mampu membuat aturan yang adil untuk manusia. Padahal semua itu hanya omong kosong. Tidakkah Ummu Imaroh telah memberikan pelajaran mendasar bagi kita?

Teguh dalam Janji di Hadapan Rasul

Tak cukup sekedar beriman, Ummu Imaroh yang telah membulatkan keimanan itu pun hendak menunjukkan kesetiaannya kepada Rasulullah Saw. Bersama suami dan kedua putranya, yaitu Hubaib dan Abdullah, Ummu Imaroh ikut dalam rombongan yang berjalan ke bukit Aqobah untuk menyatakan baiat atau janji kesetiaan kepada Rasulullah Saw. sebagai pemimpin dan kepala negara bagi kaum muslim. Peristiwa tersebut lebih dikenal dengan Baiat Aqobah kedua yang terjadi pada malam ke 13 bulan Dzulhijjah tahun ke 13 kenabian.

Inilah bentuk pengorbanan yang kedua dari sang politisi muslimah tersebut. Keikutsertaannya ini tentu layak diperhitungkan sebagai bentuk pengorbanan beliau dalam bidang politik. Beliau tak ingin ketinggalan memperoleh kebaikan dari peristiwa baiat Aqobah kedua yang merupakan salah satu pilar bersejarah berdirinya daulah (negara) Islam di Madinah. Tak lama setelah peristiwa tersebut Rasulullah Saw. memerintahkan kaum muslimin di Mekkah untuk berhijrah ke Madinah dan menegakkan masyarakat di sana.

Ummu Imaroh bukanlah orang yang tidak peduli dengan nasib agama Islam yang terus mendapat hinaan dan tantangan dari penduduk kafir Quraisy. Beliau juga menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari orang-orang yang siap membantu dakwah Nabi Saw. di Madinah. Meski beliau seorang perempuan, kesadaran politik yang dimilikinya begitu tinggi, tak kalah oleh mereka yang laki-laki. Beliau adalah salah satu dari dua orang yang terlibat dalam Baiat Aqobah kedua tersebut.

Inilah yang seharusnya disadari setiap muslimah abad ini. Kehidupan sekuler yang materialitsik telah melupakan tugas politik mereka. Kepedulian terhadap kondisi umat dan agama ini seharusnya menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Sayangnya, masih banyak yang cuek alias tidak peduli. Tak hanya itu, kesadaran atas kondisi umat yang memprihatinkan saat ini seharusnya juga diikuti oleh semangat untuk memperbaiki dengan berdakwah beramar makruf nahi munkar, menentang semua bentuk kedholiman dan berperan aktif dalam dakwah menegakkan negara Islam. Ummu Imaroh sebenarnya telah memberikan inspirasi bagi muslimah untuk tidak ragu mengambil posisi terdepan dalam perjuangan dakwah Islam melalui kesadaran politik Islam yang dimilikinya.

Bertempur di Bukit Uhud

Janji setia yang beliau ikrarkan di Bukit Aqobah itu pun ternyata bukan omong kosong. Sungguh beliau telah mewujudkannya melalui sepak terjangnya membantu dakwah Islam di Madinah dan terlibat secara aktif dalam setiap peristiwa besar yang dialami kaum muslim.

Ummu Imaroh memang layak mendapat julukan pahlawan perempuan Anshar. Kepahlawanannya sangat menonjol terutama dari aktivitas beliau yang mengikuti berbagai peperangan melawan orang-orang kafir. Beliau turut serta dalam Perang Uhud, Perjanjian Hudaibiyah, Umrah Qadha’, Perang Hunain dan Perang Yamamah di mana tangannya terpotong . Dapatkah kita membayangkan bagaimana jiwa seorang perempuan yang terlibat dalam berbagai medan pertempuran? Jika ia seorang pengecut, tentu tak akan hadir di medan laga. Jika ia bukan orang yang yakin akan pahala dan kebaikan yang besar di sisi Allah SWT tentu ia lari dan bersembunyi. Namun itulah Ummu Imaroh. Beliau telah meyakinkan diri menjadi bagian yang bisa berarti dalam setiap kesempatan.

Dalam Perang Uhud, Ummu Imaroh ikut bersama suami dan kedua anaknya. Pada waktu itu beliau membawa tempat yang berisi air. Beliau mendapati Rasulullah Saw. bersama para shahabatnya. Namun tatkala pasukan Islam mulai mengalami kekalahan, Ummu Imaroh pun maju ke medan perang untuk ikut bertempur menggunakan pedang dan panah.

Ketika ada salah seorang musuh yang datang hendak menyerang Rasulullah Saw. Ummu Imaroh dan beberapa shahabat membentuk tameng pertahanan untuk melindungi Rasulullah Saw. hingga orang yang hendak menyerang Rasulullah tersebut sempat memukul Ummu Imaroh . Kegigihan Ummu Imaroh dalam melindungi Rasulullah Saw. ini terlihat dari sabda beliau, “Aku tidak menoleh ke kiri dan ke kanan melainkan melihat Ummu Imarah”. Dan benar saja, pengorbanan Ummu Imaroh dalam perang Uhud ini tampak dari 12 bekas luka di tubuhnya.

Ummu Imaroh memang perempuan pemberani. Ia rela mengorbankan jiwa dan raganya. Tatkala Rasulullah Saw. melihat lukanya, Beliau Saw. bersabda kepada anak Ummu Imaroh, yaitu Abdullah, ” Ibumu, ibumu…balutlah lukanya. Ya Allah, jadikanlah mereka sahabat saya di surga “.

Mendengar doa yang disampaikan Rasulullah Saw. tersebut Ummu Imaroh pun berkata : “Aku tidak menghiraukan lagi apa yang menimpaku dari urusan dunia ini “. Kalimat seperti ini tentu tak akan keluar dari mulut manusia yang lebih mencintai dunia. Cukuplah hal ini menjadi bukti bahwa Ummu Imaroh adalah orang yang telah menjual apa yang dimilikinya di dunia ini dengan surga. Inilah bentuk pengorbanan yang paling tinggi dari seorang manusia untuk Rabbnya.

Namun, bagaimana dengan kebanyakan muslimah kini. Kata-kata surga bak nyanyian merdu yang biasa menghiasi telinga mereka namun tak berbekas dalam jiwa dan amalan. Kerinduan pada keridloan Allah SWT seakan jauh dari harapan, apalagi jika harus dibayar dengan dunia dan isinya. Kenikmatan dunia telah banyak melalaikan visi dan misi yang seharusnya dimiliki muslimah. Jangankan terluka oleh goresan pedang dan anak panah -sebagaimana Ummu Imaroh- kebanyakan perempuan kini malah berlomba-lomba mempercantik diri, memoles dan memuluskan tubuh bahkan tak sedikit yang harus operasi plastik. Sesudah itu, mereka jajakan kecantikannya itu di hadapan laki-laki demi segenggam uang yang pasti akan habis dalam waktu cepat, bukan balasan surga yang pasti kekalnya seperti yang bakal diperoleh Ummu Imaroh. Tidakah kita malu, mengapa masih saja tertipu oleh silaunya dunia?

Isteri dan Ibu Teladan

Ummu Imaroh memang bukan perempuan biasa. Ketangguhan di medan juang, tak mengurangi rasa tanggung jawabnya sebagai muslimah. Ia tetap mampu mengemban kewajibannya sebagai isteri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Pengorbanannya sebagai isteri nampak dari sikapnya terhadap kedua suaminya. Dengan suami yang pertama, Ia mampu menjadi pendamping dan teman perjuangan saat suami isteri ini menyatakan baiat di bukit Aqobah dan bersungguh-sungguh dalam membantu dakwah Rasulullah Saw di Madinah.

Adapun setelah hidup dengan suaminya yang kedua, Ummu Imaroh pun tak pernah tertinggal untuk mendampingi suaminya dan memberikan berbagai pertolongan di medan pertempuran. Keduanya nampak dalam Perang Uhud, peristiwa Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain dan Perang Yamamah. Inilah pengorbanannya sebagai isteri seorang pejuang yang siap berjuang kapan pun, di mana pun dan dengan resiko apapun. Ummu Imaroh telah memerankannya dengan sangat baik.

Tidakkah seharusnya hal ini menjadi inspirasi bagi para istri di jaman modern kini. Tak seharusnya para isteri lebih mementingkan karirnya di luar rumah, jauh dari suami atau bahkan memiliki dunia sendiri yang lebih mereka cintai dari pada kehidupan rumah bersama suami dan keluarga. Kemandirian perempuan yang dipropagandakan kaum feminis dan penggiat gender berhasil menipu sebagian perempuan, sehingga mereka lebih rela meninggalkan suaminya, tak hanya dalam aktivitas bahkan ikatan penikahan. Perceraian meningkat karena isteri merasa lebih mandiri secara ekonomi, memiliki kebebasan mengatur urusannya sendiri tanpa campur tangan suami, atau semata-mata karena tidak qonaah (menerima) apa yang diberikan suami. Sementara godaan pria lain terus mengintai, akibatnya perselingkuhan pun tak terhindarkan. Dan akhirnya ikatan pernikahan mudah lepas oleh ganasnya kehidupan sekuler. Inilah penyakit yang banyak menghinggapi para isteri saat ini. Kesetiaan Ummu Imaroh pada sang suami selayaknya memberikan pengaruh, bahwa ikatan pernikahan sesungguhnya adalah jalan menuju ketaqwaan, jalan menuju diraihnya berbagai kebaikan sebagai suami isteri.

Ummu Imaroh juga layak menjadi ibu teladan. Beliau telah mampu mengantarkan putra putrinya sebagai generasi pembela Islam. Tak sedikit pun muncul keraguan dalam hantinya untuk melepas kedua putranya (Habib dan Abdullah) di setiap medan pertempuran dan tugas dakwah lainnya. Keteguhan kedua putranya mengemban amanah dakwah Islam cukup menjadi bukti bahwa mereka hidup dalam suasana pembinaan ruhiyyah yang baik di dalam keluarga yang tentu tak lepas dari pengaruh Ummu Imaroh, sang ibu.

Saat perang Badar, anaknya -Abdullah- dengan gagah berani ikut berjuang menegakkan panji-panji Islam sehingga Islam memperoleh kemenangan. Adapun kiprah Habib nampak saat ia memegang amanat sebagai utusan Khalifah Abu Bakar untuk menyampaikan surat kepada Musailamah al Kadzdzab. Ummu Imaroh pun mendorong agar anaknya mampu mengemban amanat tersebut dengan baik. Namun rupanya Habib harus syahid tatkala membela Islam di hadapan kekufuran tersebut.

Mendengar kematian anaknya itu, Ummu Imaroh bukannya kecewa. Ia malah menerimanya dengan penuh keyakinan bahwa putranya mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah SWT. Ia menerima berita kematian itu dengan penuh kemuliaan serta kebanggaan karena telah mempersembahkan yang terbaik untuk Islam dan kaum muslim.

Pengorbanan hakiki seorang ibu terhadap sang anak sepertinya menjadi barang langka saat ini. Terlebih saat ibu lebih senang menjadikan anaknya sebagai mesin uang, penghias rumah dan penyanjung harga diri alias prestise. Jangankan menanamkan ruh jihad pada anak, mereka malah antipati terhadap pemahaman Islam yang dianggap radikal. Berapa banyak pula ibu yang justru lebih memilihkan lembaga pendidikan yang berorientasi keilmuan dan pekerjaan saja untuk anaknya. Sementara pendidikan yang lebih menekankan pembentukan kepribadian Islam dianggap kuno, ketinggalan jaman, dan tidak bermutu. Itu semua tentu tidak mencerminkan sosok ibu yang baik. Keteladan Ummu Imaroh dalam mengarahkan buah hatinya selayaknya menginspirasi setiap ibu untuk mencetak generasi yang siap mengemban tanggung jawab masa depan Islam dan kaum muslim.

Pengorbanan Sepanjang Hayat

Ummu Imaroh memang telah dimuliakan Allah SWT melalui pengorbanannya di sepanjang hayat. Perang Yamamah yang bertujuan untuk menumpas gerakan Musailamah telah membawanya pada puncak pengorbanan. Saat itu Ummu Imaroh dan anaknya -Abdullah- ikut serta dalam perang Yamamah. Musailamah yang sebelumnya telah membunuh Habib terbunuh oleh Abdullah -anak Ummu Imaroh yang lain. Inilah pengorbanan terakhirnya. Beberapa tahun setelah peristiwa Perang Yamamah tersebut, Ummu Imaroh meninggal dunia. Beliau pulang dengan dua belas bekas tusukan dan kehilangan satu tangan serta satu anaknya, semua diperolehnya dari medan pertempuran.

Itulah pengorbanan yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Beliau tidak mengenal kesal, mengeluh, mengadu, apalagi bersedih meski tubuhnya terluka sekalipun, meski belahan jiwanya hilang sekalipun. Karena sesungguhnya obat dari berbagai tantangan tersebut adalah harapan yang begitu tinggi untuk meraih ridhwanullah.

Seandainya kaum muslimah saat ini memiliki himmah dan cita-cita semulia Ummu Imaroh, niscaya mereka tidak mudah melupakan Allah SWT dan berputus asa dari rahmat-Nya. Sungguh, menapaki kehidupan ini memang penuh cobaan. Tantangan perjuangan pun akan datang silih berganti. Namun, janji Allah SWT pasti ditepati. Dia akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya. Artinya, jika kaum muslim saat ini kembali kepada agama Alllah SWT, menjunjung tinggi syariat Islam sebagai satu-satu pengatur kehidupan mereka, niscaya umat Islam bisa keluar dari keterpurukan, kehinaan dan ancaman musuh-musuh Islam. Semua itu telah dibuktikan sendiri oleh Ummu Imaroh, ia telah memperoleh kemenangan hakiki, saat segala daya upaya telah diberikan untuk menolong agama Allah SWT meski harus menjalani berbagai kesulitan dan kesakitan.

Penutup

Pengorbanan Ummu Imaroh memang tak dapat disetarakan dengan pengorbanan Nabi Ibrahim as.dan Nabi Ismail as. Meski kedua kisah pengorbanan ini ada yang terjadi pada Bulan Dzulhijjah, masing-masing memang memiliki dimensi yang berbeda. Namun, sebagai sosok perempuan yang rela mengorbankan apa yang dimilikinya di tengah kesulitan hidup pada zamannya, Ummu Imaroh layak menjadi teladan kaum ibu dan perempuan pada umumnya di masa kini.

Berkaca pada keteladanan tersebut, kaum muslimah saat ini harus memiliki kesadaran politik Islam meski mereka sebagai seorang ibu dan isteri. Peran aktifnya sangat diperlukan untuk membangun masyarakat Islam. Muslimah manapun juga berhak mendapatkan surga sebagaimana Ummu Imaroh jika mereka mampu mempersembahkan jiwa dan raganya untuk Allah SWT semata-mata. Dunia ini terlalu kecil dan tak layak ditukar oleh surga yang luasnya tak dapat diperhitungkan manusia. Semoga akan terlahir Ummu Imaroh lain di sepanjang perjalanan umat Muhammad Saw ini. Aamiin. [] Noor Afeefa

Rujukan

Dr. Ahmad Sudirman Abbas, M.A, Mukjizat Doa dan Air Mata Ibu, Qultum Media, 2009.

ORMAS ISLAM SATUKAN BARISAN

Perwakilan Organisasi Massa (ormas) Islam menyatukan barisan untuk mengkampanyekan Islam sebagai agama pembawa rahmat.

Penyatuan ini ditandai dengan dideklarasikannya Forum Persahabatan Ormas Islam yang diikuti oleh 14 ormas Islam di kantor PB Nahdlatul Ulama, Jakarta Jumat (21/10) malam.

Ketua Umum PBNU, KH Said Agil Siradj, menjelaskan forum ini dihadirkan untuk memperkuat posisi Islam di Indonesia. Forum ini diharapkan bisa menjadi jembatan dalam mengelimir perbedaan yang kerap muncul di tengah umat Islam.

Selain itu, forum ini diharapkan bisa menjadi wadah untuk meredam radikalisme agama yang menyudutkan Islam sebagai agama teroris. ”Forum ini pada intinya adalah upaya mempersatukan umat Islam untuk tidak terpecah belah,” kata Said yang menjadi motor pertemuan forum ini.

Forum ini merupakan kelanjutan dari pertemuan yang pernah dilakukan sejumlah ormas Islam dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 7 Juni 2011. Said menyatakan, sejak awal pertemuan ini digagas tidak bertujuan untuk terlibat pada kegiatan politik praktis.

Tetapi lebih mengedepankan ukhuwah antara ormas Islam yang ada di Indonesia. ”Dan tentunya, forum ini diharapkan dapat memberikan keselamatan bagi umat serta kelestarian bagi kemanusian,” tegasnya.

Dalam deklarasi forum ini hadir 14 perwakilan pimpinan ormas Islam. Selain NU, dalam forum ini turut terlibat juga Muhammadiyah, Al-Irsyad Al-Islamiyah, Persis, Ittihadiyah, serta Mathlaul Anwar. Kemudian ada pula ormas Arrobitoh Al-Alawiyah, Syarikat Islam Indonesia, Perti, Ikadi, Azzikra, PITI, Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), dan Himpunan Bina Muallaf.
SUMBER : REPUBLIKA.CO.ID

Pidato Qaddafi Pernah Hebohkan Sidang Umum PBB 2009

Setelah 42 tahun memegang kemudi negara yang kaya minyak, Muammar Qaddafi, akhirnya menyerah pada kekuatan revolusi. Dia memenuhi janjinya, mempertahankan pemerintahannya hingga titik darah penghabisan. Qaddafi meninggal di kota kelahirannya, Sirte.

Pada bulan September 2004, George W Bush, presiden AS saat itu, secara resmi mengakhiri embargo perdagangan AS.Normalisasi hubungan dengan kekuatan Barat menyebabkan ekonomi Libya dan industri minyak pada khususnya diuntungkan.

Namun, Gaddafi dan Lockerbie kembali menjadi sorotan pada 2009, ketika al-Megrahi dibebaskan dari sebuah penjara Skotlandia atas dasar bahwa ia sakit parah dan hampir mati. Dia kembali ke Libya dan disambut bak eorang pahlawan, hal yang memicu kecaman AS dan Inggris.

Pada bulan September 2009, Qaddafi mengunjungi AS untuk hadir dalam sidang Majelis Umum PBB.

Pidatonya seharusnya berlangsung 15 menit, namun akhirnya berlangsung lebih dari satu jam. Perwakilan beberapa negara memilih walk out.

Ia merobek-robek salinan piagam PBB, menuduh Dewan Keamanan menjadi badan yang mirip teroris al-Qaeda, dan menuntut 7,7 triliun dolar AS sebagai kompensasi yang harus dibayar ke Afrika oleh para penguasa kolonial masa lalu.

Terinspirasi oleh pemberontakan di Tunisia dan Mesir, Libya mulai mengadakan protes terhadap rezim di kota timur Benghazi pada bulan Februari tahun ini.

Qaddafi menggunakan kekuatan militer untuk menumpas demonstrasi, protes meningkat menjadi konflik habis-habisan bersenjata, dengan intervensi pasukan pimpinan NATO.

Pada tanggal 27 Juni tindakan brutal dari pemerintah Libya dirujuk ke Mahkamah Pidana Internasional, yang mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Qaddafi, salah seorang putranya, dan kepala mata-matanya atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pada tanggal 20 Oktober, seorang pejabat NTC melaporkan bahwa Gaddafi telah dibunuh di dekat Sirte setelah pejuang revolusioner menyerbu persembunyiannya.

Rekaman televisi menunjukkan, tubuhnya yang bersimbah darah diseret pemberontak.

sumber : REPUBLIKA

Kisah Ibu dan Anak yang Sama-sama Mencari ‘Tuhan’ dan Menemukannya dalam Islam


Biasanya di Barat, adalah anak dan bukan orang tuanya yang menjadi mualaf. Tidak demikian dengan Aisha dan Phildel, anaknya. Aisha, keturunan Irlandia, suatu hari memutuskan bahwa dia harus memeluk Islam apapun resikonya. termasuk, kemungkinan akan membuat Phildel, putri semata wayangnya, kecewa.

Di sisi lain, Phildel merasakan hal yang sama. Pencariannya tentang Tuhan, berujung pada Islam. Berikut kisah keduanya:

Aisha: Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga Katolik Roma di Dublin pada tahun 1960-an. Sementara Dublin tampak seolah ‘terjebak’ di abad ke-19, tepat di seberang Laut Irlandia budaya hippie tumbuh subur di London. Sebagai seorang anak, saya bertanya banyak pertanyaan selama pendidikan di sekolah biara. Diskusi agama selain Katolik Roma atau “kejahatan Protestantisme” benar-benar tidak ada.

Pada usia 16 tahun aku meninggalkan Dublin dan datang ke London. Aku larut dalam kebiasaan anak muda yang ‘normal’ di kota itu: melakukan kunjungan rutin ke pub dan klub. Tapi aku melihat teman-temanku selalu depresi.

usia 20-an tahun, aku memutuskan menikah dan melahirkan putri pertamayang jelita, Phildel. Aku sangat senang tetapi sering merasa seperti sebuah pasak persegi di lubang bundar; seolah-olah aku masih belum menemukan tempat yang tepat bagiku.

Suatu hari aku berbicara dengan seorang wanita mengenakan jilbab. Dia bilang dirinya Muslim dan itu adalah pertama kalinya aku pernah mendengar kata itu. Pada perkembangan berikutnya, di tempat kerja, saya mengenal beberapa Muslim dan mereka mulai bercerita lebih banyak tentang Islam.

Suatu malam aku menemukan diriku berjalan di jalanan dengan Phildel di bawah hujan dan tak tahu harus kemana, setelah bertengkar hebat dengan suamiku dan kami diusir. Aku ingat mengangkat mataku ke langit dan memohon pada Tuhan untuk membantuku entah bagaimana atau memberiku suatu pertanda kalau Dia ada. Entah bagaimana caranya, kami sampai di sebuah rumah yang ternayata milik perempuan berjilbab yang pertama kali aku mengenal Islam darinya!

Setelah menemukan rumah sendiri, aku mulai belajar Islam. Lama aku mempelajarinya, sebelum akhirnya yakin, Islamlah agama yang pas buatku. Phildel membuatku maju-mundur untuk bersyahadat, namun akhirnya aku kuatkan hati dan menjadi Muslim. Aku kini sudah menikah lagi dengan pria Muslim dan memiliki seorang anak dengannya, Amina namanya.

Phildel, yang aku besarkan sebagai seorang Katolik Roma sampai perceraianku, tanpa aku sadari sangat antusias tentang Islam dan mengatakan syahadat sendiri. Dia kemudian memilih nama Zara. Phildel kini memilih tinggal dengan ayahnya.

Phildel: ibuku dan aku sangat dekat, tidak ada seorang pun di dunia ini yang aku cintai selain dia. Pada tahun-tahun menjelang perceraian orang tuaku, kami menghabiskan lebih banyak waktu di sekitar keluarga Muslim.

Setelah perceraian kehidupan kami menjadi semakin sulit; pernikahan orang tuaku mencapai titik yang paling bergolak dan aku lebih dari lega ketika seluruh cobaan berat itu berakhir. Aku menandai perubahan yang positif dalam diri ibu dan ayah saya segera setelah mereka berpisah. Saya pikir sekitar waktu ini ibu saya mengalami pengalaman yang membangkitkan semangat luar biasa di rumah seorang teman dan kemudian menjadi seorang Muslim.

Aku? Meskipun aku tidak pernah dipaksa untuk menjadi seorang Muslim, saya menyadari langkahku menjadi Muslim adalah hasil pengaruh lingkungan. Aku tumbuh di sekitar keluarga Muslim, maka secara tak langsung pikiranku ternegaruh. Itulah sebabnya, setelah bersyahadat, aku sempat kembali ke agama lama; hanya untuk meyakinkanku agama apa sebetulnya yang dipilih hatiku.

Kini aku tinggal terpisah dari ibu – aku tinggal bersama ayah kandungku – dan berpikir Islam adalah agama yang indah. Aku senang membantu di masjid dan berbicara dengan saudara-saudara Muslimku. Kurasa aku hanya ingin mengalami sesuatu yang membuatku tahu ini adalah arah yang perlu aku ambil, arah yang benar, yaitu menjadi Muslim.

Jadi sampai sekarang aku masih belajar.

Jihad Melawan Korupsi Kewajiban Agama, Revolusi Tak Bisa Dihindarkan

Habib Muhammad Rizieq Syihab MA
Ketua Umum DPP FPI

Sebagai pemimpin Laskar Anti korupsi (LAKI) Pejuang, menurut Habib mengapa korupsi masih terus terjadi, bahkan intensitasnya semakin meningkat meski telah ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ?

Intesitas korupsi di Indonesia makin meningkat, karena memang sistem politik dan ekonominya merupakan Sistem Korup. Nah, Sistem Korup inilah yang telah mengebiri KPK agar tidak bisa kerja optimal dengan hasil yang maksimal. Bahkan, kini KPK nya telah terperangkap dalam kubangan Sistem Korup yang mengepungmya, sehingga mulai ada komunitas yang memplesetkan KPK sebagai Komisi Perlindungan Koruptor.

Menurut penilaian Habib, bagaimana kinerja KPK sekarang ini ?

Dalam sejumlah kasus langkah KPK patut dipuji dan diberikan apresiasi, namun dalam sejumlah kasus lainnya KPK masih belum mampu melepaskan diri dari intervensi rezim penguasa. Misalnya dalam Kasus Century, KPK hanya berani menyentuh ekor bukan kepala. Padahal, kalau kita ingin tangkap ular, ketok kepalanya maka ekor ikut lumpuh, tapi kalau ketok ekor maka kepalanya “nyatek”.

Menurut Habib, apakah mantan ketua KPK Antasari Azhar menjadi korban fitnah kekuasaan sehingga dihukum 18 tahun penjara ? Apakah Antasari Azhar masih pantas untuk memimpin KPK ?

Terlepas soal salah tidaknya Antasari Azhar dalam kasus yang dihadapinya, yang jelas Antasari telah membuat rezim penguasa menjadi murka. “Kesalahan” Antasari terhadap rezim penguasa ada tiga : Pertama, nekat memenjarakan besan Presiden. Kedua, mencoba mengungkap kejanggalan pengadaan IT di KPU. Ketiga, mulai menyentuh soal penggelembungan suara dalam Pemilu. Disini, langkah Antasari harus dipuji dan wajib didukung sepenuhnya, bahkan Antasari menjadi ikon perlawanan terhadap koruptor.

Sedang Kasus Antasari terkait wanita dan pembunuhan harus diadili seadil-adilnya, tanpa rekayasa dan intervensi dari pihak mana pun. Jika tidak terbukti, maka Antasari harus segera dilepaskan dan mesti direhabilitasi serta dikembalikan jabatannya sebagai Pimpinan KPK. Namun, jika terbukti bersalah, tentu Antasari harus bertanggung-jawab, sehingga tidak pantas lagi memimpin KPK. Jadi, serahkan saja kasus Antasari kepada proses hukum yang jujur, adil dan amanah.

Selain itu, Kasus Antasari harus jadi pelajaran bagi Pimpinan KPK lainnya. Artinya, jika Antasari tidak salah dan hanya menjadi korban fitnah, maka Pimpinan KPK lainnya harus siap menghadapi resiko serupa dalam memimpin KPK, jangan justru menjadi takut di-“Antasarikan”, sehingga yang semula suaranya “garing” jadi berubah “lembek” bagai “kerupuk disiram air”. Sebaliknya, jika ternyata Antasari terbukti bersalah dan memang tidak bersih, maka ke depan yang harus duduk sebagai Pimpinan KPK harus “bersih”, sehingga rezim jahat mana pun tidak punya celah untuk memeras Pimpinan KPK, apalagi mengkriminalkannya.

Apakah KPK sekarang dalam menindak koruptor melakukan tebang pilih ?

Karena KPK masih belum mampu melepaskan diri dari intervensi rezim penguasa, maka KPK dipaksa untuk tebang pilih. Selama ini KPK berdalih “Prioritas Kasus” untuk menjustifikasi tebang pilihnya. Andai kata pun kita terima alasan tersebut, mestinya prioritas itu mengacu kepada teori Top Down yaitu dari atas ke bawah, bukan Botton Up yaitu dari bawah ke atas. Ambil pelajaran dari “Wudhu”, basuh muka dulu baru kaki, bukan kaki dulu baru muka. Artinya, bersihkan korupsi mulai dari Presiden dan Pimpinan Lembaga Tinggi Negara lainnya, lalu para menteri dan anggota dewannya, selanjutnya Gubernur dan dirjen serta terus ke bawah. Jangan terbalik !

Selain itu, prioritaskan kasus besar daripada kasus menengah, apalagi kasus kecil. Walau pun kasus besar itu rumit dan penuh bahaya, karena KPK itu dibentuk justru untuk menyelesaikan yang rumit dan berbahaya. Artinya, prioritaskan dulu korupsi kelas “Hiu” daripada kelas “Kakap”, jangan terbalik. Kalau perlu, yang “Teri” hingga “Kakap” serahkan saja ke polisi, agar KPK hanya fokus menangani yang kelas “Hiu” dan “Paus” dengan segala marabahayanya. Kalau takut, ya jangan jadi Pimpinan KPK ! Minggir saja, serahkan kepada yang bersih dan punya nyali !

Mengapa KPK tidak berani menindaklanjuti kasus Century meski sudah ada keputusan Pansus Century DPR ?

Itu tadi, KPK masih berada dalam cengkeraman rezim penguasa.

Ada yang mengatakan bahwa KPK terpaksa tebang pilih untuk “keselamatan negara”, karena jika semua kasus korupsi dibuka, maka negara ini bisa bubar. Bahkan salah seorang pengacara Nazarudin juga punya pernyataan serupa bahwa jika semua yang diketahui Nazaruddin dibuka ke publik, maka Indonesia bisa bubar ?

Omong kosong !!! Walau pun korupsi semua instansi pemerintah dan semua pejabat di Indonesia dibuka KPK atau siapa pun, maka NKRI tidak akan bubar ! FPI dan FUI serta LAKI PEJUANG bersama semua Barisan Pemuda Indonesia dan segenap komponen bangsa lainnya yang masih bersih siap setiap saat mengambil-alih negara dan menyelamatkannya dari kejahatan para bangsat perampok harta rakyat. Untuk keselamatan bangsa dan negara, kita bisa potong satu sampai dua generasi melalui revolusi !

Bagaimana cara membersihkan Indonesia dari para koruptor ?

Pertama, ganti Sistem Korup dengan Sitem Islam. Kedua, tegakkan Syariat Islam di semua sektor kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa intimidasi mau pun diskriminasi terhadap penganut agama lain. Ketiga, didik anak Indonesia sejak dini melalui kurikulum pendidikan sekolah di semua jenjang bahwa korupsi adalah dosa besar dan musuh semua agama serta perbuatan keji yang sangat menjijikkan. Keempat, buat program “Sejuta Da’i Lawan Korupsi” dan bukakan akses da’wahnya ke semua instansi serta semua institusi informasi dan komunikasi, baik negeri mau pun swasta.

Kelima, bebaskan KPK dari segala intervensi dan bersihkan dari oknum yang “tidak bersih” atau bermasalah. Keenam, bubarkan semua Partai Korup dan LSM Komprador serta Ormas Liberal yang menjadi kaki tangan Neolib dan Nekolim. Ketujuh, hukum semua koruptor tanpa pandang buluh, presiden sekali pun jika korupsi maka hukum mati. Kedelapan, sita semua harta koruptor untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Kesembilan, buka lapangan kerja yang halal seluas-luasnya dengan standar gaji yang sebagus-bagusnya serta buat pemerataan kesejahteraan dari pusat sampai ke daerah. Kesepuluh, jaga keutuhan NKRI, tegakkan kedaulatan negeri, tolak segala intervensi dan nasionalisasikan semua perusahaan asing yang mengendalikan kebutuhan vital rakyat, bangsa dan negara.
Intinya, ganti rezim ganti sistem !

Apakah para koruptor wajib dihukum mati seperti di China mengingat kerugian negara sangat besar ? Jika ya, apa dalilnya dari Al-Qur’an atau As-Sunnah ?

Jika tindak pidana korupsi dikatagorikan sebagai hudud, maka masuk dalam bagian tindak pidana pencurian dengan sanksi hukum potong tangan, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS.5.Al-Maa-idah : 38. Dan sebagaimana pula Rasulullah SAW telah menjatuhkan hukum potong tangan terhadap seorang wanita dari Bani Makhzum dalam kasus pencurian.

Sedang jika tindak pidana korupsi dikatagorikan sebagai ta’zir, maka sanksi hukumnya sesuai ketetapan hukum negara yang tidak bertentangan dengan ketentuan syar’i, sehingga bisa beragam mulai dari nasihat dan peringatan serta denda, sampai kepada cambuk dan penjara serta potong tangan. Bahkan bisa mencapai hukuman mati jika sudah mencapai tingkat yang sangat membahayakan, karena termasuk katagori kerusakan tingkat tinggi yaitu “Fasad fil Ardhi” sebagaimana firman Allah SWT QS.5.Al-Maa-idah : 33. Karenanya, usul saya, jika korupsi di bawah seratus juta potong saja tangannya sesuai hukum pidana pencurian dalam Islam. Jika korupsi di bawah satu milyar potong tangan dan kakinya secara silang (tangan kanan dan kaki kiri) sesuai hukum perampokan dalam Islam. Ada pun jika korupsi di atas satu milyar maka hukum mati saja sesuai hukum perampokan tingkat tinggi dalam Islam.

Mengapa Presiden SBY tidak mampu bertindak tegas terhadap para koruptor, sebagaimana mantan PM China Zhu Rong Zhi yang menghukum mati para koruptor ?

SBY nya sendiri bermasalah !

Banyaknya koruptor di negeri ini, apakah karena sistimnya ataukah karena para pejabatnya tidak amanah ?

Keduanya.

Dengan banyaknya kasus korupsi yang terjadi di eksekutif, legislatif maupun yudikatif, apakah Indonesia sedang menuju pada negara gagal dan negara kleptokrasi ?

Ya.

Apakah perlu digerakkan jihad melawan korupsi melalui revolusi rakyat seperti di Timur Tengah ?

Jihad melawan korupsi adalah kewajiban agama. Revolusi tidak bisa dihindarkan, karena Reformasi sudah gagal total, bahkan kini Reformasi sudah berubah jadi “Repotnasi”.

Apakah korupsi mampu diberantas melalui penerapan syariah Islam di Indonesia ?

Pasti ! Karena Hukum Islam itu sempurna datang dari Yang Maha Sempurna.

Allah SWT adalah Pencipta manusia dan alam semesta, sehingga Allah SWT adalah yang paling tahu tentang kelebihan dan kekurangan makhluk ciptaan-Nya, serta Maha Tahu tentang aturan hidup  macam mana yang terbaik untuk makhluk ciptaan-Nya terrsebut.  Nah, Allah SWT sebagai Pencipta tentu paling berhak membuat aturan hidup bagi makhluk ciptaan-Nya. Dan Allah SWT sebagai Dzat yang paling tahu tentang kebutuhan makhluk-Nya tentu menjadi yang paling pantas untuk membuat aturan yang sesuai dengan karakter makhluk yang diciptakannya. Nah, Allah SWT Sang Pencipta Yang Maha itu telah menurunkan “kitab panduan” sebagai pedoman hidup manusia ciptaan-Nya yaitu Al-Qur’an berikut penjelasannya yaitu As-Sunnah.

Ibarat barang elektronik yang diproduksi sebuah pabrik, maka tentu pabrik tersebut yang paling tahu tentang kelebihan dan kekurangan barang ciptaannya, serta paling tahu tentang cara mengoperasikan dan mangatasi problemnya, sehingga pabrik itulah yang paling berhak membuat “Buku Panduan” nya. Barangsiapa ingin mengoperasikan suatu merk barang elektronik bukan dengan buku panduan dari pabrik yang memproduksinya, apalagi mengoperasikan TV dengan buku panduan AC, atau mengoperasikan Mobil dengan buku panduan Motor, tentu akan terjadi “Kerusakan”. Begitu pula, barangsiapa ingin mengoperasikan “kehidupan manusia” dengan buku panduan bukan dari Pencipta manusia itu sendiri, maka ibarat mengoperasikan pesawat mutakhir super canggih yang sempurna dengan “panduan becak”, maka niscaya akan “nyungsep” pesawat tersebut sehingga akan terjadi kerusakan dan kehancuran.

Kesimpulannya, hukum mana lagi yang bisa mengatur kehidupan manusia dengan baik, kalau bukan hukum yang datang dari pencipta manusia itu sendiri. Hukum Adat dan Hukum Sipil mana pun di dunia tak ada yang mampu menandingi Hukum Allah SWT. Firman Allah SWT dalam QS.5.Al-Maa-idah : 5 dengan secara tegas telah menandaskan hal ini.

Dengan situasi sosial politik sekarang termasuk banyaknya koruptor yang dilindungi negara, apakah rezim SBY masih akan mampu bertahan hingga 2014 ?

Rezim SBY sudah gagal memimpin, kalau masih mau berkuasa lagi, sungguh tidak tahu malu !

Terakhir, bagaimana langkah awal LAKI PEJUANG dan perjuangannya ke depan ?

Langkah awal LAKI PEJUANG adalah menyatukan semua potensi bangsa, muslim mau pun non muslim, agamis mau pun nasionalis, kecuali Liberal dan Aliran Sesat serta para Koruptor, di seluruh tanah air untuk maju bersama menyelamatkan negara dari korupsi. Perjuangan ke depan akan sangat berat, tapi jika dilaksanakan dengan iman dan taqwa akan menjadi ringan. Karenanya, para Pejuang LAKI harus bersih, jujur dan amanah, serta tegas dan berani, sekaligus kompak dan bersatu. Ayo, basmi korupsi !  Ayo, ganyang koruptor ! Allahu Akbar !

Abdul Halim

800 Ulama Medan Dukung Dakwah Hizbut Tahrir Indonesia

HTI Press. “Demi kalimat Tauhid Lailahailalllah Muhammadarasulullah mengalir di seluruh tubuh saya, bahwa saya yakin perjuangan Hizbut  Tahrir Harus didukung penuh. Karena Hizbut Tahrir-lah partai yang berasaskan Islam. Saya yakin, bahwa perjuangan menegakkan khilafah tidak mudah namun mampu dilakukan oleh Hizbut  Tahrir Karena gerakan ini sudah mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan dalam perjuangan dan hal apa saja yang harus dimiliki saat Khilafah tegak. Wahai ulama, wahai kaum muslimin yakinlah atas janji Allah, perjuangkanlah Khilafah dan dukunglah Hizbut Tahrir.” ucap Ustadz Bunhiya Sinaga salah seorang penyampai testimoni III dalam Liqa Syawal HTI Sumut bersama ulama, Ahad 09/10 di Grand Antares, Medan.

Kalimat yang diucapakan ustadz Bunhiya tersebut menyulut kerinduan peserta terhadap khilafah. Sehingga tak sedikit dari peserta yang meneteskan air mata dalam acara tersebut karena terharu atas apa yang disampaikan oleh ustadz Bunhiya Sinaga. Ketua DPD I HTI Sumut Ustadz Musa Abdul Ghani sendiri akhirnya keluar sejenak tak sanggup menahan air matanya mengalir karena terharu atas apa yang disampaikan oleh ustadz Bunhiya tersebut. Ia mengatakan, bahwa tak sanggup melihat wajah keihlasan dan keberanian ustadz Bunhiya menyeru seluruh ulama yang ada di ruangan tersebut untuk berdakwah bersama Hizbut Tahrir.

Acara yang diikuti sekitar 800 ulama di Kota Medan ini menjadi salah satu bukti dukungan riil dakwah Hizbut – Tahrir di tengah – tengah umat. Juga menjadi bukti bahwa opini perjuangan khilafah kian menggelora. Namun dalam kesempatan itu juga, kembali diingatkan oleh pembicara testimoni I Ustadz Irwan Said bahwa perjuangan dakwah penegakan khilafah tidaklah mudah. Perjuangan dakwah ini membutuhkan dukungan dan kesungguhan ulama tentang penegakan syariah dan Khilafah. Karena ulama adalah orang yang paling takut kepada Allah karena keilmuannya.

Hingga acara berakhir, para peserta banyak mengeluarkan air mata. Mereka pun terharu dan rindu: kapan Khilafah tegak kembali.  Allahu Akbar[]

PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA KINI

Oleh: Dr. Ainurrofiq Dawam, M.A

Pengantar

Tulisan berikut ini merupakan suntingan dari Dr. Ainurrofiq, doktor muda dalam bidang pendidikan Islam dari UIN Yogyakarta. Pria berkacamata tebal ini mencoba melihat pendidikan Islam dewasa ini dengan mengaitkan pada persoalan moralitas bangsa. Dr. Ainurrofiq adalah alumnus S.3 UIN Jakarta yang cukup produktif menulis buku dan memberikan kata pengantar buku yang menelaah tentang pendidikan dan lain sebagainya.

Tulisan ini juga menyoroti perjalanan pendidikan Islam di Indonesia, yang sampai saat ini masih menduduki ranking kurang begitu bagus dibanding negara-negara lainnya. Kurangnya perhatian pemerintah pusat dan menitikberatkan pembangunan pada sektor ekonomi menyebabkan pembangunan jiwa dan mental bangsa menjadi termarjinalkan. Padahal pembangunan mental, jiwa, dan moral bangsa adalah sebuah keharusan dan keniscayaan sejarah yang tidak bisa ditawar-tawar, khususnya bagi bangsa Indonesia sebagaimana dijelaskan secara panjang lebar dalam buku ini. Pendidikan moral bukan pendidikan ekonomi yang paling penting bagi bangsa Indonesia. Pendidikan ekonomi tanpa didukung dengan pendidikan moral yang kuat hanya akan memunculkan pemimpin-pemimpin yang berpenyakit kronis. Harapan telah tiba, dengan dinaikannnya anggaran pendidikan (20 persen), sudah siapkah mental para pnegelola pendidikan? Semoga saja.

Indonesia adalah sebuah negara besar yang memiliki penduduk ratusan juta jiwa. Indonesia juga adalah negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Menurut sebuah perhitungan manusia Muslim Indonesia adalah jumlah pemeluk agam Islam terbesar di dunia. Jika dibanding dengan negara-negara Muslim lainnya, maka penduduk Muslim Indonesia dari segi jumlah tidak ada yang menandingi. Jumlah yang besar tersebut sebenarnya merupakan sumber daya manusia dan kekuatan yang sangat besar, bila mampu dioptimalkan peran dan kualitasnya. Jumah yang sangat besar tersebut juga mampu menjadi kekuatan sumber ekonomi yang luar biasa. Jumlah yang besar di atas juga akan menjadi kekuatan politik yang cukup signifikan dalam percaturan nasional.

Namun realitas membuktikan lain. Jumlah manusia Muslim yang besar tersebut ternyata tidak mamiliki kekuatan sebagaimana seharusnya yang dimiliki. Jumlah yang sangat besar di atas belum didukung oleh kualitas dan kekompakan serta loyalitas manusia Muslim terhadap sesama, agama, dan para fakir miskin yang sebagian besar (untuk tidak mengatakan semuanya) adalaha kaum Muslimin juga. Kualitas manusia Muslim belum teroptimalkan secara individual apalagi secara massal. Kualitas manusia Muslim Indonesia masih berada di tingkat menengah ke bawah. Memang ada satu atau dua orang yang menonjol, hanya saja kemenonjolan tersebut tidak mampu menjadi lokomotif bagi rangkaian gerbong manusia Muslim lainnya. Apalagi bila berbicara tentang kekompakan dan loyalitas terhadap agama, sesame, dan kaum fakir miskin papa. Sebagian besar dari manusia Muslim yang ada masih berkutat untuk memperkaya diri, kelompok, dan pengurus partainya sendiri. Masih sangat sedikit manusia Muslim Indonesia yang berani secara praktis—bukan hanya orasi belaka—memberikan bantuan dan pemberdayaan secara tulus ikhlas kepada sesame umat Islam, khususnya para kaum fakir miskin papa.

Paradoksal fenomena di atas, yakni jumlah manusia Muslim Indonesia yang sangat besar akan tetapi tidak memiliki kekuatan ideologi, kekuatan politik, kekuatan ekonomi, kekuatan budaya, dan kekuatan gerakan adalah secara tidak langsung merupakan dari hasil pola pendidikan Islam selama ini. Pola dan model pendidikan Islam yang dikembangkan selama ini masih berkutat pada pemberian materi yang tidak aplikatif dan praktis. Bahkan sebagian besar model dan proses pendidikannya terkesan asal-asalan atau tidak professional. Selain itu, pendidikan Islam di Indonesia negara tercinta mulai tereduksi oleh nilai-nilai negative gerakan dan proyek modernisasi yang kadang-kadang atau secara nyata bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Pengantar ini mencoba untuk membErikan gambaran secara global tentang pendidikan Islam Indonesia saat ini sebagai landasan awal untuk meneropong moralitas bangsa di masa depan. Moralitas masa depan bangsa menjadi sangat penting untuk diteropong, karena didasarkan pada asumsi awal sebagian pakar yang berpendapat bahwa salah satu factor penyebab atau biang keladi terjadi dan berlangsungnya krisis multidimensional negara Indonesia adalah masalah moralitas bangsa yang sangat “amburadul” dan tidak “karu-karuan”.

Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional: Kilasan Sejarah Singkat

Pendidikan Islam yang dalam hal ini dapat diwakili oleh pendidikan meunasah atau dayah, surau, dan pesantren diyakini sebagai pendidikan tertua di Indonesia. Pendidikan Pendidikan ketiga institusi di atas memiliki nama yang berbeda, akan tetapi memiliki pemahaman yang sama baiak secara fungsional, substansial, operasional, dan mekanikal. Secara fungsional trilogi sistem pendidikan tesrebut dijadikan sebagai wadah untuk menggembleng mental dan moral di samping wawasan kepada para pemuda dan anak-anak untuk dipersiapkan menjadi manusia yang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara. Secara substansial dapat dikatakan bahwa trilogi sistem pendidikan tersebut merupakan panggilan jiwa spiritual dan religius dari para tengku, buya, dan kyai yang tidak didasari oleh motif materiil, akan tetapi murni sebagai pengabdian kepada Allah. Secara operasioanal trilogi sistem penidikan tersebut muncul dan berkembang dari masyarakat, bukan sebagai kebijakan, proyek apalagi perintah dari para sultan, raja, atau penguasa. Secara mekanikal bisa dipahami dari hasil pelacakan histories bahwa trilogi sistem pendidikan di atas tumbuh secara alamiah dan memiliki anak-anak cabang yang dari satu induk mengembang ke berbagai lokasi akan tetapi masih ada iktan yang kuat secara emosional, intelektual, dan cultural dari induknya.

Sebelum masuknya penjajah Belanda triilogi sistem pendidikan pribumi tersebut berkembang dengan pesat sesuai dengan perkembangan agama Islam yang berlangsung secara damai, ramah, dan santun. Perkembangan tersebut pada dasarnya merupakan bukti bagi kesadaran masyarakat Indonesia akan sesuinya model pendidikan Islam dengan nurani masyarakat dan bangsa Indonesia saat itu. Kehidupan masyarakat terasa harmonis, selaras, dan tidak saling mendominasi. Hanya saja sejak masuknya bangsa penjajah baik Spanyol, Portugis, dan Belanda dengan sifat kerakusan akan kekayaan dan materi yang luar biasa menjadikan masyarakat Indonesia tercerai berai. Terdapat sebagian masyarakat pribumi yang masih teguh dengan pendirian dan ajaran yang diperoleh di dayah, surau, dan pesantren ada juga yang sudah mulai terbuai dengan bujuk rayu para penjajah jahat tersebut.

Sebagian manusia pribumi yang menerima bujukan dan rayuan penjajah di atas adalah manusia pribumi yang telah lupa dan memang secara sadar melupakan ajaran yang mereka peroleh di tempat pendidikannya. Mereka juga terbius dengan iming-iming kekayaan dari para penjajah yang sangat licik. Kelicikan dan kejahatan para penjajah memang tidak pernah diungkap oleh para sejarawan. Kelicikan dan kejahatan penjajah sudah tidak bias diterima manusia normal. Bujukan dan rayuan yang manis dari para penjajah diarahkan kepada manusia pribumi yang kelihatan secara moral, kepribadian, praktik keagamaan masih lemah dan rendah. Moralitas yang rendah, kepribadian yang lemah dan tingkat ketaatan keagamaan minim merupakan sasaran empuk bagi para penjajah.

Trilogi sistem pendidikan Islam di atas mulai tergerus bahkan memang sengaja dibatasi serta dimatikan oleh penjajah. Para penjajah memandang bahwa trilogi sistem pendidikan Islam tersebut pada dasarnya bukanlah lembaga pendidikan akan tetapi hanyalah lembaga agitasi dan provokasi untuk melawana penjajahan. Dengan asumsi yang demikian, maka menjadi sangat wajar ketika penjajah berusaha untuk mengkerdilkan atau bahkan mematikannya. Di saat yang bersamaan penjajah mendirikan sistem pendidikan alam negara penjajah. Di sini telah terjadi polarisasi lembaga pendidikan yang pada awalnya hanya mengenal pendidikan tradisional, maka pada masa penajajahan ini mulai muncul sistem pendidikan modern. Di sinilah cikal-bakal mulai munculnya istilah pendidikan tradisional dan pendidikan modern. Adanya fragmentasi ini kemudian juga merembet ke dikotomisasi ilmu pengetahuan yaikni ada ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama dipahami sebagai ilmu-ilmu yang diberikan secara tradisional oleh trilogi sistem pendidikan Islan sedangkan ilmu umum digunakan untuk menyebut ilmu-ilmu yang diberikan oleh lembaga pendidikan modern, dalam hal ini sekolah-sekolah yang didirikan para penjajah. Adanya persaingan yang tidak seimbang antara kaum penjajah dan penduduk asli, maka sebagian besar manusia Indonesia mulai mengalami perubahan dalam kehidupannya.

Mulai saat ini pulalah manusia Indonesia mengalami perubahan yang sangat signifikan baik dalam aspek ideologi, ekonomi, politik, maupun moralitas. Dalam aspek ideologi manusia pribumi mulai ada yang bergeser dari ideologi spiritualisme-religius ke ideologi materialisme-kapitalisme. Ideologi materialisme-kapitalisme adalah ideologi yang lebih mementingkan kekayaan materi dan kekayaan tersebut digunakan untuk dirinya sendiri. Kekayaan yang diperoleh dengan cara memeras dan menyiksa para fakir miskin adalah sebuah perilaku para pengkiut ideilogi ini. Dalam aspek ekonomi juga mulai bergeser dari hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya mengarah ke orientasi untuk menguasi selutuh kekayaan yang ada, sehingga kekayaan tesrebut hanya untuk dirinya sendiri. Hal ini memang merupoakan konskuensi logis dari pergeseran ideologi di atas. Karena secara teoritis dan praktis antara ideologi dan perilaku ekonomi akan memiliki kesejajaran dan kesinambungan. Dalam aspek politik kehidupan masyarakat bergeser dari sekedar menjadikannya sebagai sarana untuk menmgembangkan ajaran dan moralitas masyarakat bergeser menjadi sebagai sarana untuk menguasai masyarakat baik secara cultural maupun truktural. Inilah yang belakangan menyebabkan munculnya kekayaan structural dan kemiskinan structural. Yaitu kondisi dan keberlangsungan kehidupan masyarakat dimana yang kaya semakin kayak arena menguasai seluruh akses kekayaan, sedangkan yang miskin semakin miskin karena memang telah direbut seluruh aksesnya oleh orang yang kaya.

Dalam aspek moralitas pergeseran terjadi pada pandangan masyarakat tentang konsep moralitas itu sendiri. Moralitas di sini dipahami sebagai konsep tentang moral atau kebaikan atau baiknya sesuatu yang telah dikonstruksi oleh masyarakat. Ketika penajajh yang berkuasa di Indonesia, maka konsepsi tentang moral harus mengikuti konstruksi masyarakat penajajah. Sedangkjan sebagaimana dijelaskan di depan bahwa ideologi para penjajah adalah materialisme-kapitalis, maka sesuatu atau seseorang dianggap baik dan bermoral ketika sesuatu itu bermanfaat dan berguna secara materiil. Seseorang dikatakan kurang moralitas dan nilainya di hadapan masyarakat ketika seseorang itu tidak mampu memberikan manfaat dan kegunaan secara materiil. Orang yang dianggap berhasil dan bermoralk adalah sewseorang yang telah memiliki jabatan, kekayaan, dan harta l;ebih dari orang tuanya. Demikianlah pergesaran yang terjadi sebagai akibat terjadinya penjajahan di Indonesia.

Pada masa penjajahan Jepang –yang merupakan Saudara Tua (karena sama-sama di benu Asia dengan Indonesia)—pendidikan tradisional mulai mendapatkan angin kemajuan. Namun, semua itu tidak ada artinya karena memang penjajahan Belanda sebagai salah satu bangsa Barat atau lebih dikenal dengan bangsa Barat telah menancapkan ideologi, politk, ekonomi, budaya, dan moralitas kepada masyarakat pribumi, maka angina segar tersebut tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal. Dengan demikian pendidikan tradisional menjadi sangat sulit untuk kemabli lagi ke posisi semual, yakni sebelum adanya penjajahan bangsa Barat.

Memasuki masa kemerdekaan pendidikan Islam masih terus berkutat dengan sistem pendidikan modern (peninggalan Belanda). Sistem pendidikan ini dipelopori oleh para tokoh pendidikan yang telah mengenyam sistem pendidikan Belanda atau Barat. Oleh karena itu, menjadi sangat masuk akal ketika sistem pendidikan nasional Indonesia berkiblat kepada sistem pendidikan Barat. Sistem pendidikan yang berkiblat pada sistem pendidikan Barat secara praktis dan teoritis berbeda dengan sistem pendidikan Islam tradisional. Dari sinilah kemudian terjadi pemisahan antara pendidikan tradisional yang dalam hal ini bias direpresentasikan oleh pendidikan Islam dan pendidikan modern yang dalam hal ini bias direpresentasikan oleh pendidikan nasional. Kedua asistem pendidikan ini merupakana sebuah hasil kompromi para funding father negeri ini.

Kompromi yang diambil para funding father negeri ini adalah bahwa pengabaian sistem pendidikan Islam tradisional akan sangat menyakitkan umat Islam. Mengingat jasa dan pengorbanan para ulama dan santri dari trilogi sistem pendidikan Islam tersebut di atas. Pertimbangan lainnya adalah agar umat Islam memiliki lembaga pendidkkan khusus, sehingga mayoritas penduduk Indonesia tidak mengalami kekecewaan yang luar biasa kepada pemerintah. Oleh karena itu, pada masa kemerdekaan tepatnya pada 3 Januari 1946 didirikanlah Departemen Agama yang mengurusi urusdan umat Islam. Meskipun pada dasarnya Departemen Agama ini mengurusi keperluan seluruh umat beragama di Indonesia, namun melihat latar belakang pendiriannya jelas untuk mengakomodasi kepentingan dan aspirasi umat Islam sebagai mayoritas penduduk negeri ini.

Dalam masalah pendidikan, kepentingan dan keinginan umat Islam juga ditampung di Departemen ini. Namun sangat disayangkan perhatian para pemimpin negeri ini kurang begitu besar terhadap pendidikan Islam di bawah naungan Depag ini. Hal ini terbukti dengan anggaran yang sangat berbeda dengan saudar mudanya yaitu pendidikan nasional. Perbedaan perhatian dengan wujud kesenjangan anggaran ini kemudian menyebabkan munculnya perbedaan kualitas pendidikan yang berbeda. Di satu sisi lembaga-lembaga pendidikan yang di bawah departemen pendidikan nasional mengalami perkembangan cukup pesat sementara pendidikan Islam yang berada di bawah payung Departemen Agama “terseok-seok” dalam mengikuti perkembangan zaman.

Sampai pada pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru pemisahan sistem dan pengelolaan pendidikan nasional dan pendidikan Islam masih dipertahankan. Artinya adalah bahwa pengelolaan pendidikan Islam masih mengalami nasib yang tidak bagus dibanding dengan saudara mudanya, pendidikan nasional. Walaupun secara substansial kedua sistem pendidikan tersebut oleh pemerintah Indonesia sendiri juga mengalami nasib yang sama buruknya, yaitu rendahnya anggaran pendidikan bila dibanding dengan negara-negara berkembang lain apalagi dibanding dengan negara-negara maju.

Demikianlah nasib perjalanan pendidikan di Indonesia yang sampai saat ini masih menduduki ranngking kurang begitu bagus dibanding negara-negara lainnya. Kurangnya perhatian pemerintah pusat dan menitikberatkan pembangunan pada sector ekonomi menyebabkan pembangunan jiwa dan mental bangsa menjadi termarjinalkan. Padahal pembangunan mental, jiwa, dan moral bangsa adalah sebuah keharusan dan keniscayaan sejarah yang tidak bisa ditawar-tawar, khususnya bagi bangsa Indonesia sebagaimana dijelaskan secara panjang lebar dalam buku ini. Pendidikan moral bukan pendidikan ekonomi yang paling penting bagi bangsa Indonesia. Pendidikan ekonomi tanpa didukung dengan pendidikan moral yang kuat hanya akan memunculkan pemimpin-pemimpin yang berpenyakit kronis.

Pendidikan Indonesia Kini: Materialisasi Pendidikan

Pendidikan Indonesia saat ini merupakan hasil dari kebijaksanaan politik pemerintah Indonesia selama ini. Mulai dari pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Pendidikan Indonesia masih mementingkan pendidikan yang bersifat dan berideologi materilisme-kapitalisme. Ideologi pendidikan yang demikian ini memnmag secara teoritis tidask nampak, akan tetapi secara praktis merupakan realitas yang tidak dapat dibantah lagi. Materialisasi atau proses menjadikan semua bernilai materi telah merunyak di segala sendi sistem pendidikan Indonesia, termasuk pendidikan Islam. Sendi-sendi yang dimasuki bukan hanya dalam materi pelajaran, pendidik, peserta didik, manajemen, lingkungan, akan tetapi juga tujuan pendidikan itu sendiri. Jika tujuan pendidikan telah mengarah ke hal-hal yang bersifat materi, maka apa yang diharapkan dari proses pendidikan tersebut.

Dalam masalah kurikulum pendidikan misalnya diarahkan kepada kurikulum yang memberikan bekal kepada peserta didik untuk mampu mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang besar. Kurikulum tersebut dibuat sedemikian rupa dan untuk mengikutinya harus mengeluarkan uang sangat sangat besar. Jika dalam proses memperolehnya haru mengeluarkan dana yang besar, maka dapat dibayangkan setelah memperoleh pengetahuan tersebut. Peserta didik yang telah selesai akan menggunakan pengetahuan tersebut paling untuk mengembalikan modal dan tentu berupaya untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya. Karena memang teori modern mengatakan bahwa pendidian adalah investasi di masa depan. Investasi dalam dunia ekonomi dipahami sebagai modal yang akan dipetik keuntungannya di waktu yang akan datang. Sedangkan prinsip ekonomi yang diajarkan di sekolah menengah adalah keluarkan modal sedikit mungkin dan hasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Dari sini dapat dipahami bahwa kurikulum pendidikan telah dijadikan atau telah diselwengkan tujuannya hany auntuk mendapatkan pekerjaan. Sedangkan untuk menjadikan manusia yang utuh bukan hanya dimarjinalkan, akan tetapi memang dimatikan karena prinsip ekonomi tidak mengenal nilai-nilai spiritual, moralitas, kebersamaan.

Dalam aspek pendidik misalnya banyak sekali praktek dan perilaku penididik yang menjual nilai untuk mendapatkan uang. Bahkan ada sebagian pendidik yang menjadikan kewenangannya untuk memberikan nilai kepada peserta didik demi mendapatkan pendapatan dari peserta didiknya sendiri. Modusnya adalah dengan memberikan nilai rendah pada program regular, kemudian akan diberikan nilai agak tinggi atau bahkan tinggi pada program khusus dimana peserta didik jug amembayar dengan biaya khusus. Praktik dan moud operansi yang demikian ini bukan hanya menjadi realitas, akan tetapoi sudah menjadi penyakit kronis dalam dunia pendidikan, bahkan pendidikan Islam sendiri. Praktik yang demikian akan menjadi hilang ketika nilai-nilai moralitas benar-benar terpancar dalam sistem pendidikan. Nilai-nilai moralitas yang diberikan kepada peserta didik selama ini hanyalah teori-teori yang tidak pernah dibuktikan dalam praktik kehidupan. Meskipun itu dalam praktik pendidikan itu sendiri. Praktik pelanggaran moralitas tinggi justru sudah diajarkan oleh para pendidik kepada peserta didik dengan berbagai praktik dan modus operandi dalam proses pengajaran dan ujian, salah satunya adalah modus di atas.

Aspek peserta didik merupakan korban dari sistem dan proses pendidikan yang ada. Jika sistem pendidikan nssional maupun pendidikan Islam telah mengalkami reduksi makna dari pendidikan menjadi sekedar penyampaian pengetahuan (transfer of knowledges), maka pada saat itulah peserta didik telahg diberi pelajaran yang sangat luar biasa pengaruhnya dalam kehidupannya kelak. Peserta didik yang sudah berpoengalaman, misalnya mahasiswa S1 atau S2 dan bahkan S3 yang telah memahmi praktik-praktik demikian ini dan tidak mau memperhjatikan nilai-nilai moralitas akan melakukan praktik-praktik asal bias lulus dan selesai. Bahkan ada yang lebih tragis lagi yaitu asal dapat gelar, sehingga muncul pasar gelar di Indonesia yang beberapa tahun sebelum ini sangat marak dijajakan baik lewat media massa maupun media elektronik. Jual beli nilai, jual beli gelar, dan jual beli karya ilmiah adalah satu hal yang menunjukkan betapa rendah mental dan moralitas para peserta didik. Fenomena di atas merupakan realitas yang terjadi dalam dunia pendidikan yang ideologinya telah mengarah kepada ideologi materiliasme-kapitalis.

Materialisasi aspek manajemen pendidikan dapaty dilihat pada praktik munculnya kebanggaan semua pihak baik pengelola, pendidik, peserta didik, dan wali akan megahnya gedung dan kampus dimana mereka berada dan ikut andil di dalamnya. Kemagahan gedung kampus dan seklolah menjadi tolok ukur majunya sebuah lembaga pendidikan. Jika orientasi kemegahan gedung kampus dan sekolah menjadi ukuran kemajuan sebuah pendidikan, maka dapat dibayangkan orientasi pendidikannya. Orientasi manajemen pendidikannya adalah pada kemegahan gedung secara fisikla, sementara kemegahan spsirtual dan moral;itasa termarjinalkan atau bahkan sama sekali ditiadakan. Semua pihak yang ada di dalamnya akan merasa bangga dan menganggap orang lain yang tidak berada di situ sebagai masyarakat pendidikan kelas rendah. Manajemen pendidikan yang hanya mengarah pada kemegahan gewdung kampus pada gilirannya akan ditundukkan atau dikalahkan oleh insitusi pendidikan lainnya yang memiliki modal yang luar biasa besarnya. Jadin pada dasarnya lembaga pendidikan atau dengan kata lain manajemen pendidikannya dimaksudkjan untuk berkompetisi. Dan kompetisi inilah yang menjadi darah dan energi bagi penyelenggaraan pendidikannya. Keberhasilan sebuah lembaga pendidikan hanya diukur dengan megahnya gedung, mahalnya SPP, banyaknya peminat, dan alumninya banyak yang menduduki jabatan tinggi. Inilah manajemen pendidikan di Indonesia saat ini.

Materialisasi pada aspek lingkungan pendidikan merupakan fenomena yang sangat jelas. Lingkungan pendidikan di sini dipahami sebagai masyarakat yang berada di sekitar pendidikan atau dengan kata lain adalah masyarakat Indonesia sendiri. Masyarakat Indonesia sejak memasuki era modernisasi telah mengalami pergeseran yang luar biasa. Pergeseran tersebut mencakup pergeseran orientasi kehidupan, pergeseran budaya, pergeseran gaya hidup, pergeseran pandangan hidup, pergeseran pertilaku politik, pergeseran perilaku ekonomi, dan pergeseran terhadap ajaran agama. Pergeseran-pergeseran tersebut jmuarany adalah disebabkan oleh adanya modernisasi yang terus “dibombardirkan” kepada masyarakat, baik melalui jalur pendidikan, jalur media massa, dan jalur birokrasi. Modernisasi pada intinya adalah upaya rasionalisasi seluruh aspek kehidupan masyarakat, dari yang pada mulanya kental akan nuansa religius, nuansa sakralitas, dan nuansa spiritual bahkan nuansa transendental menjadi tidak bernuansa sama sekali kecuali nuansa rasionalitas, nuansa obyektivitas, dan nuansa realitas-empiris. Massyarakat yang telah bergeser pandangan hidupnya menjadi sebagaimana dikemukakan di atas, maka menjadikan danmenganggap pendidikan sebasgai investasi dan ketika selesai akan mendapatkan keuntungan lebih besar adalah sangat wajar. Semu aini pada dasarnya adalha materialsasi lingkungan pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan Islam.

Materialisasi tujuan pendidikan merupakan landasan awal bagi proses materialisasi seluruh aspek di atas. Tujuan di manapun dia berada merupakan muara akhir dari semua proses yang ada sebelumnya, termasuk di sini adalah dslam proses pendidikan. Tujuan pendidikan yang dimaterialisasikan adalah upaya mencapai tujuan pendidikan nasioanl maupun pendidikan Islam dengan asumsi dapat diukur secara kuantitatif dan dapat diliuhat jhasilnya secara nyata. Tujuan-tujuan pendidikan yang telah mengalami materialisasi dapat dilihat pada tujuan para pendidik. Misalnya, berapa alumni yang telah menjadi dokter, berapa ayang telah menjadi pengacara, berapa yang telah menjadi pejabat tinggi, berapa alumni yang telag menjadi dewan. Dengan melihat jumlah alumni yang telah menduduki ajabatan apapun akan dapat dipredikisikan penghasilan mereka. Setelah diketahui pendapatan par alaumni, maka dapat diketahui pal keberjhasilan sebuah lemabag pendidikan. Sangat jarang atau bahkan tidak ada berapa alumnsi yang telah menjadi manusia bermoral, berapa alumni yang telah memnebriak kesadaran masyarakat akan arti pentingnya persaudaraan, berapa alumni yang telah mampu memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat tanpa pamrih apapun, berapa alumni yang telah benar-benar melaksanakan tujuan pendidkannya yaitu menjadi manusia seutuhnya. Manusia seutuhnya di sini berarti secara jamsani dan ruhani, secara material dan spiritual, dan secara fisik dan mental, serta secara intelektual dan moral telah terjadi keseimbangan yang nyata. Jarang sekali atau bahkan tidak ada sensus keberhasilan pendidikan yang mengukur kesuskesannya dengan ranah yang demikian ini.

Pendidikan Moral atau Akhlak: Membangun Landasan Budaya

Pendidikan Islam pada intinya adalah sebagai wahana pembentukan manusia yang bermoralitas tinggi. Di dalam ajaran Islam moral atau akhlak tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Keimanan merupakan pengakuan hati. Akhlak adalah pantulan iman yang berupa perilaku, ucapan, dan sikap atau dengan kata lain akhlak adalah amal saleh. Iman adalah maknawi (abstrak) sedangkan akhlak adalah bukti keimanan dalam bentuk perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran dan karena Allah semata.

Berkaitan dengan pernyataan di atas bahwa akhlak tidak akan terpisah dari keimanan, dalam al-Qur’an juga sering dijelaskan bahwa setelah ada pernyataan “orang-orang yang beriman,” maka langsung diikuti oleh “beramal saleh.” Dengan kata lain amal saleh sebagai manifestasi dari akhlak merupakan perwujudan dari keimanan seseorang. Pemahaman moralitas dalam bahasa aslinya dikenal dengan dua istilah yaitu al-akhlaq al-karimah dan al-akhlaq al-mahmudah. Keduanya memiliki pemahaman yang sama yaitu akhlak yang terpuji dan mulia, semua perilaku baik, terpuji, dan mulia yang diridlai Allah.

Dalam pendidikan Islam proses penghayatan dengan sebenarnya terhadap moralitas menjadi tolok ukur keberhasilan. Memahami moralitas belum tentu secara otomatis menghayatinya. Pemahaman terhadap moralitas berarti bahwa segala sesuatu tentang moralitas sudah jelas baik dan pentingnya untuk dimiliki setiap peserta didik. Namun pemahaman tersebut barulah terjadi dalam pikiran, belum tentu meresap ke dalam hati dan perasaan. Berapa banyak hal yang baik diketahui kebaikan dan manfaatnya bagi kehidupan akan tetapi semua orang condong untuk tidak menjadikannya sebagai pegangan atau pedoman dalam hidupnya. Sebaliknya semua orang tahu dan menyadari bahwa sifat buruk itu tidak baik akan tetapi tidak semua orang mau menghindari atau meninggalkannya. Masalahnya terletak pada penghayatan terhadap hal-hal yang baik tersebut.

Menghayati sesuatu berarti menjadikannya bagian dari kepribadiannya, menyatu, dan tidak terpisahkan lagi. Jadi menghayati moralitas berarti semua bentuk moralitas yang telah diketahui itu masuk menjadi bagian dari pribadi dan tidak terpisahkan lagi. Akibat selanjutnya adalah pandangan hidup, cara berpikir, dan bersikap akan dipengaruhi oleh sesuatu yang telah dihayati itu.

Masalah penghayatan bukanlah sederhana terutama bagi orang dewasa di mana pertumbuhan kepribadiannya telah selesai pada usia 20 atau 21 tahun. Penghayatan adalah proses kejiwaan atau proses pendidikan. Dikatakan proses kejiwaan artinya dalam mengubah kepribadian yang telah terbentuk menjadi kepribadian baru. Proses tersebut dalam ilmu jiwa dinamakan proses mengulang kembali pembentukan kepribadian (reconstruction of personality).

Proses kejiwaan yang demikian itu tidak mudah, harus dilakukan dengan usaha dan secara sadar. Di antaranya dengan pemahaman bahwa unsur-unsur baru itu ternyata dan terbukti baik serta diperlukan oleh yang bersangkutan. Perlu pula diketahui bahwa kepribadian yang telah terbentuk itu tercakup di dalamnya semua pengalaman akhir masa remaja kira-kira pada usia 20 tahun. Semua pengalaman tersebut ada yang hilang atau terlupa. Oleh karena itu, unsur-unsur baru yang akan dimasukkan ke dalam pribadi yang telah terbentuk harus cukup banyak agar dapat menetralisir yang sudah ada, sehingga berubah menjadi kepribadian bentuk baru. Pengalaman yang berkaitan dengan unsur baru itu harus banyak pula, agar perubahan tersebut mantap dan dapat mengubah tindakan yang terjadi akibat perubahan pribadi tersebut.

Dalam rangka penghayatan moralitas yang sudah dipahami memerlukan adanya pengalaman-penagalaman lewat penerapan dalam berbagai keadaan dan kesempatan. Pengalaman itu akan membawa kepuasan dan kegembiraan yang berhasil dicapai dalam pergaulan dari reaksi orang yang berhubungan dengannya. Semakin banyak pengalaman yang menyenangkan tersebut dan semakin diterimanya unsur baru (moralitas) tersebut, maka semakin banyak pula dorongan untuk meningkatkan pengalaman yang telah berhasil itu. Di samping itu juga akan muncul dorongan untuk mengamalkan dan menerapkan berbagai macam moralitas lainnya. Akhirnya terjadilah penyatuan (internalisasi) moralitas ke dalam pribadi yang tidak dapat dipisahkan lagi.

Moralitas tersebut perlu penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan moralitas yang tinggi bagi pndidik amat penting sebab penampilan, perkataan, akhlak, dan segala apa yang terdapat padanya dilihat, didengar, dan diketahui oleh peserta didik. Hal ini semua akan mereka serap dan tiru, dan lebih jauh akan mempengaruhi pembentukan dan pembinaan akhlak mereka. Oleh karena itu, seyogyanya setiap pendidik menyadari bahwa peranan dan pengaruhnya terhadap anak didik amat penting. Jika pengaruh yang terjadi adalah yang tidak baik, maka kerusakan yang terjadi tidak hanya pada anak itu saja, melainkan mempengaruhi anak cucu dan keturunannya serta anak didiknya bila kelak ia menjadi pendidik.

Setelah pemahaman dan penghayatan akhlak mulia, maka selanjutnya perlu usaha yang sungguh-sungguh untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan perubahan kepribadian dan masuknya moralitas ke dalam konstruksi kepribadian tidak akan terjadi secara langsung pada perilaku dan sikap. Apabila seseorang telah memiliki kebiasaan tertentu dalam menghadapi sesuatu, maka perilaku atau tindakan yang telah menjadi kebiasaan itu segera terjadi ketika seseorang menghadapi hal yang sama. Semua proses ini yang paling strategis adalah memalui pendidikan, dalam konteks Indonesia adalah pendidikan nasional dan pendidikan Islam.

Pada dasarnya kebiasaan itu memudahkan orang hidup. Perkataan, perbuatan, gerakan, tangkah laku yang telah menjadi kebiasaan seringkali terjadi tanpa pikiran, seolah-olah semua itu terjadi secara otomatis. Karena itulah, maka moralitas yang belum menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari perlu diingat dan diusahakan penerapannya setiap saat agar menjadi kebiasaan. Menghentikan kebiasaan lama dan menggantinya dengan kebiasaan baru memerlukan pengorbanan dan usaha karena menumbuhkan kebiasaan baru itu membutuhkan pemikiran, kesadaran, dan kesengajaan. Di lain pihak kebiasaan lama sering terjadi tanpa proses pengolahan dalam pikiran dan mudah menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, kemampuan menerapkan moralitas perlu dibina dan diusahakan dengan sungguh-sungguh.

Demikian pula halnya dengan berbagai kelakuan yang bertentangan dengan moralitas baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun berbangsa. Untuk membantu menghentikannya dalam Islam secara tegas ada hukum dan ketentuan yang melarang perbuatan yang tercela (madzmumah) dengan hukum haram. Orang tidak dengan sendirinya berhenti dari perbuatan salah atau dosa yang telah terbiasa dilakukannya setelah memahami dan menghayati bahwa perbuatan tersebut dilarang Allah dan diancam dengan siksaan bagi yang melakukannya. Dia perlu berusaha menghentikannya dengan perjuangan melawan kebiasaan buruk itu dan memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan tersebut serta berdoa kepada Allah agar diberi-Nya kekuatan untuk melawan dorongan yang buruk tersebut.
Upaya penerapan moralitas dalam kehidupan sehari-hari seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan nasional dan pendidikan Islam baik dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam keluarga metode yang dapat digunakan adalah peneladanan, sebab segala aktivitas orang tua akan menjadi panutan bagi putera-puterinya. Ketika di sekolah, guru di samping menyampaikan pelajaran dengan metode ceramah atau tanya jawab, juga perlu memberikan teladan yang baik. Sedangkan di dalam masyarakat pendidikan akhlak ini dapat dilakukan dengan metode nasehat dan peneladanan, terutama dari para tokoh dan pemimpin masyarakat.

Pendidikan moral dan akhlak menduduki posisi yang sangat penting dalam percaturan pendidikan di Indonesia, bahkan bukan hanya dalam aspek pendidikan saja, melainkan juga bidan g kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya, dan ideologi. Arti penting dari pendidikan moral atau akhlak dapat dilihat dari hasil pendidiikanm yang sampai saat ini berlkansgung. Banyka pemimpion negara yang lupa akan penderitaan takyat, hanya memewntingkan diri dan kelompoknya, menindas kaum melarat dan kalah serta tunduk kepada pemilik modal besar (konglomerat., Bangsa Indeonsai akan terus mengalami kemerosotan ekonomi, politik, dan budaya, ketika pendidikan moral dan akhlak sudah dijadikan sebagai landasan awal pendidikan nasional. Namun, semua ini tergantung pada political will para pemimpin negeri ini (Presiden dan DPR atau ekskutif dan legislatrif))

Pendidikan Terpadu: Sebuah Tawaran

Pendidikan di Indonesia dari dulu sampai saat ini masih terkesan atau jelas-jelas berjalan secara parsial dan terpisah-pisah tanpa adanya kordinasi yang jelas dari pemerintah. Parsialisasi ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga pendidikan yang berlindung atau didirikan oleh beberapa departemen, misalnya Departemen Pertahanan memiliki Akabri, Akpol dan sebagainya; Departemen Agama memiliki lembaga pendidikan agama, Departemen Keuangan memiliki lembaga pendidikan STAN, Departemen Dalam Negeri memiliki lembaga pendidikan APMD dan sebagainya. Dasar pemikiran pendirian tersebut di satu sisi adalah untuk pemberdayaan sumber daya manusia masing-masing departemen, namun ada analisis lain yaitu sebagai lahan untuk mendapat anggaran lebih besar. Karena lembaga-lembaga pendidikan di masing-masing departemen merupakan sumber proposal proyek yang sangat strategis.

Implikasi dari parsialisasi dan terkesan miskordinasi sistem pendidikan nasional tersebut menyebabkan munculnya bibit-bibit egoisme masing-masing departemen. Kordinasi yang seharusnya menjadi salah satu strategi yang sangat penting menjadi terpental dengan parsialisasi tersebut. Oleh karena itu, barangkali layak dikemukakan di sini dilontarkan adanya ide Pendidikan Nasional Terpadu. Modus operandinya adalah dihilangkannya masing-masing lembaga pendidikan di departemen yang berbeda kemudian dijadikan menjadi satu payung. Namun sebelumnya harus dilakukan kesepakatan bersama secara mantap bahwa payung tersebut harus tetap mengakomodasi kepentingan dan aspirasi masing-masing departemen. Konsep pendidikan yang demikian mungkin bisa disebut pendidikan terpadu.

Lontaran ide tentang pendidikan nasional terpadu ini didasarkan pada beberapa pemikiran:
– Pendidikan nasional selama ini tidak pernah bersahabat dengan dunia industri. Dunia industri seakan-akan berada di luar dunia pendidikan nasional. Padahal dunia industri dan pendidikan adalah dua pihak yang saling membutuhkan. Industri di sini mencakup seluruh jenis industri misalnya industri pertanian, industri kehutanan, industri kesehatan, industri olah raga, industri pendidikan, industri kelautan, industri komunikasi, industri transportasi, industri informasi, industri militer dan intelijen, industri budaya, industri arsitektur, industri keuangan, industri entertainment, industri hukum, industri media massa dan sebagainya. Simbiosis mutalisme di atas merupakan satu-satunya sarana yang paling strategis bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional. Dengan adanya simbiosis mutualisme inilah yang kemudian memunculkkan konsep pendidikan nasional terpadu. Artinya segala kebutuhan kehidupan manusia Indonesia diupayakan dipenuhi dengan membuat penelitian yang kemudian memproduksinya. Semua ini dilakukan oleh putera-puteri Indonesia betapapun buruknya kualitas bila hal itu adalah produk dalam negeri harus dihormati dan harus dikembangkan oleh pendidikan yang ada dengan penelitian yang intensif. Atau dengan kata lain bahwa hasil penelitian yang dilakukan dan ditemukan oleh ilmuwan Indonesia harus direspons dan didukung sepenuhnya oleh dunia industri. Bukan hanya menerima jadi dari luar negeri, karena betatapun bagusnya produk luar negeri lambat laun akan menyengsarakan dan memiskinkan masyarakat Indonesia sendiri.

– Pendidikan nasional selama ini tidak memiliki visi yang jelas tentang pemberdayaan manusia Indonesia sendiri. Memang hal ini tergantrung pada sistem politik dan kebijakan pendidikan pemerintah, selama pemerintah lebih menitikberatkan pada pemanfaatan dan pengagung-agungan produki impor maka produksi dalam negeri akan terus mengalami kemerosotan atau bahkan mati sama sekali. Politkk ekonomi pemerintah selama ini tidak sejalan dengan politik pendidikannya, politkk pendidikannya juga tidak sesuai dengan politik budayanya, demkkian juga politik budayanya tidak sesuai dengan politik ideologinya. Atau dengan kata lain antara politik yang satu dengan politik yang laan tidak ada yang sejalan, seirama, dan senafas. Misalnya dari segi ideologi, nasionalisme adalah ideologi yang paling dominan, namun ketika berada dalam politik ekonomi dan politik militer berbeda karena lebih mementingkan kepentingan luar negerei dalam arti menggunakan teori-teoiri Barat dan persenjataan impor. Ini jelas menunjukkan tidak adanya keselarasan dan kesesusaian antara politik ideololgi dan poliitk ekonomi maupun militer. Demikian juga yang terjadi dengan politik pendidikan dan poltiki lainnya tidak ada yang selaras. Untuk menyelaraskan perlu kiranya digagas politik pendidikan nasional terpadu yang mencakup dan sejalan dengan politik ideologi, politik pemerintahan, politik budaya, politik ekonomi, politik hukum, dan politik-politik lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk memperjelas visi pendidikan nasioanl terpadu sebagai upaya untuk keluar dari keterpurtukan multidimensionala bangsa Indonesia ini.

– Pendidikan nasional pada dasarnya adalah otak dari sebuah badan besar yakni negara Indonesia. Jika otak tersebut dipisah-pisah baik energi, potensi maupun kekuatannya, maka kinerja otak tersebut tidak akan bisa maksimal. Demikian juga dengan pendidikan nasional bila kekuatan, energi, dan potensinya dipisah-pisahkan ke masing-masing departemen, maka performance-nya juga tidak akan bisa mencapai maksimal. Sebagai kekuatan utama dalam pendidikan nasional, maka pendidikan nasional terpadu ini mencakup seluruh disiplin keilmuan yang berkembang saat ini. Kinerjanya dapat ditentukan dengan target jangk apendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Namun semua itu tidak boleh melupakan aspek moralitas yang menjadi kendali utama sistem pendidikan nasional terpadu ini. Sebab tanp adanya kendali moralitas yang tinggi, maka pemusatan kekuatan, potensi dan energi akan menjadi sasarn empuk bagi para “tikus-tikus intelektual” yang tidak mengenal tempat dan waktu itu. Dengan demikian, pemanfaatan departemen pendidikan sebagai muara satu-satunya seluruh proses pendidikan nasional menjadi mudah dimonitor. Tentunya semua ini didasarkan pada legislasi dan hukum yang jelasa dan mantap tidak interpretable dan multi tafsir.

– Pendidikan nasional terpadu merupakan ejawantah dari kepercayaan manusia Indonesia kepada para pengelola pendidikan. Kepercayaan tersebut merupkan modal yang sangat luar biasa ampuhnya bagi pencurahan perhatian kemajuan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional. Kepercayaan yang saat ini menguap dari masing-masing pihak merupakan akibat secara tidak langsung dari terpecahnya konsentrasi pengelola pendidikan nasional. Di satu sisi departemen ini mengurusi dan bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan nasional, namun di sisi lain tidak mampu mengakses dan memberikan regulasi yang tegas terhadap lembaga yang ada di bawah naungannya. Kepercayaan tersebut bisa dimunculkan kembali jika pemerintah memilki political will yang kuat dan konsisten terhadap kualitas pendidikan nasional, karena pada dasarnya pemerintah Indonesia hanya ada satu dan berada di bawah kekuasaan satu presiden dan satu wakil presiden dengan bekerja sama dengan DPR. Apalagi menghadapi sistem pemerintahan Indonesai hasil pemilihan umum 2004 ini yang lebih menganut sistem presidensil, maka peemrintah mnemiliki kekuasaan yang luar biasa dalam menentukan hitam putih, merah biru, hijau kuningnya pendidikan nasional.

– Pendidikan terpadu merupakan jawaban intelektual dari persoalan pendidikan yang semakin lama semakin tidak jelas visi dan arahnya. Dengan konsep pendidikan nasional terpadu visi pendidikan nasional adalah jelas pemberdayaan manusia Indonesia dalam seluruh aspek kehidupan, seluruh sector kehidupan, seluruh disiplin keilmuan, seluruh lapisan masyarakat, seluruh strata sosial, seluruh kerangka ajaran agama, seluruh etnis bangsa, seluruh budaya bangsa, seluruh tradisi local masyarakat, dan seluruh harapana manusia Indonesia. Pendidikan nasional terpadu artinya memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mengembangkan minat, bakat, potensi, kreativitas, dan keterampilannya yang kemudian didukung sepenuhnya dan diakui sepenuhnya oleh dunia industri serta pemerintah dengan aturan hukum yang jelas dan tegas. Pemberdayaan lewat pendidikan tentunya perlu dilakukan perombakan sistem pendidikan secara menyeluruh dimana tindakan-tindakan dan praktik-praktik penyelewengan sebagaiman dikemukakan di sub sebelumnya telah terbabat habis dalam proses pendidikan nasional. Kualitas alumni bukan hanya dinilai dari keberhasilan menduduki jabatan akan tetapi dinilai sejauh mana alumni tersebut telah memberikan sumbangan bagi pemberdayaan masyarakat. Inilah yang barangkali menjadi idaman manusia Indonesia seutuhnya dan para funding father negara Indonesia.

Praktik pendidikan nasional terpadu dapat digambarkan secara ringkas sebagai berikut:
– Adanya penyatuan payung pendidikan nasioanl dalam satu departemen. Departemen ini benar-benar bertanggung jawab secara nasional baik dalam hal kualitas, standar minimal lulusan, dan standar kesuksesan seorang alumni. Sebagai payung pendidikan secara nasional berarti dia memiliki kewenangan dalam menentukan berbagai komponen pendidikan. Departemen ini memiliki jaringan yang sangat kuat dengan berbagai departemen. Jaringan tersebut didasarkan pada hubungan saling mengisi dan bertanggung jawab. Artinya bahwa departemen pendidikan nasional terpadu ini harus memiliki ikatan structural, fungsional, emosional, dan intelektyal dengan departemen lain. Misalnya dengan Departemen Pertahanan, maka departemen pendidikan nasional terpadu ini bekerja sama secara intensif dalam hal penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengembangan teknologi persenjataan militer. Kerja sama bentuk ini dimaksudkan untuk mnegurangi ketergantungan tekonologi militer kepada lura negeri. Penelitian yang intensif dengan dukungan dana yang cukup serta langsung dipraktikkan dalam departemen yang bersangkutan merupakan bentuk kerja sama yang saling menguntungkan dan memberdayakan. Departemen pendidikan nasioanl yang terpadu dalam penelitian persenjataan tersebut bukan hanya berkiatan dengan persenjataan dengan teknologi tingkat menengah, akan tetaoi jga teknologi tingkat tinggi yang tentunya memerlukan para ahli militer, arsitektur, nuklir, fisika, elektro dan keahlian lain yang mendukung pengembangan persenjataan canggih. Demikian juga kerja sama dengan departemen lain misalnya departemen pertanian, keuangan, kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, departemen pendidikan nasional terpadu ini bukan berarti berada di atas departemen lainnya, akan tetapi merupakan satu-satunya departemen yang memiliki otoritas di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat Indonesia seluruhnya.

– Pendidikan nasional terpadu secara politik merupakan strategi nasional pemrintah yang sedang berkuasa dalam rangka meningkatkan kualitas manusia Indonesia untuk melepaskan diri dari ketergantungan dalam bentuk apapun dari negara lain. Berdiri di atas kekuatan, kemampuan, kekayaan, sumber daya alam, dan keterampilan sendiri adalah visi politik pendidikan nasional terpadu. Dengan visi ini dimungkinkan adanya kebanggaan bagi para pengelola pendidikan karena benar-benar diperhatikanb oleh dunia industri lainnya. Politik pembangunan infrastruktur, suprastruktur, dan superstruktur harus memberdayakan seluurh lapisan masyarakat baik secara sosial, politik, ekonomi, budaya, maupun ideologi melalui pendidikan. Dengan menjadikan pendidikan nasional terpadu sebagai strategi nasional pemerintah, maka sebagai konsekuensi logis, konsekuensi, administrative, konsekuensi responsibiltas, dan konsekuensi politik pemerintah harus menyediakan dana naggrana sesuai dengan tuntutan konstitusi hadil amandemen yang mengamanatkan 25 persen dari total APBN. Komitmen pengucuran dana sedemikian besar tentunya dibarengi dengan ketatnya nilai moralitas bangsa sedemikian rupa sehingga para poengelola tidak lupa diri dengan bergelimangnya dana anggaran poendidikan nasioanl terpadu. Hal ini harus mulai dirintis dari proses pendidikan tingkat dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Moralitas bangsa adalah satu-satunya tolok ukur keberhassilan peningkatan kualitas pendidikan nasional terpadu. Karena dengan moralitas tinggi, maka kemungkinan bocornya anggaran dana akan dapat diminimalisir. Harapan ini bukan merupakan ilusi dan obsesi intelektual dan bersifat teoritik belaka, akan tetapi bila semua pihak memiliki komitmen bahwa siapa yang salah harus dipecat dan siapa yang jujur harus terus didukung, maka moralitas bangsa akan menjadi baik dan itu harus dimulai dari sekarang dan melalui jalur politik pendidikan nasional terpadu.

– Politik pendidikan dalam rangka pemberdayaan seluruh masyarakat Indonesia dan penanaman moralitas merupakan sasaran dan tujuan utama pendidikan nasional terpadu. Moralitas bangsa merupakan landasan spiritual yang tidak mampu dibangun dalam waktu singkat. Penanaman moralitas bangsa harus dipupuk dan tidak pernah lengah sebentarpun dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, pelakasanaan proses pendidikandari sejak tingkat dasar, menengah sampai perguruan tinggi harus senantiasa dikawal moralitas peserta didik. Peserta didik yang secara moral tidak lolos dan memiliki standar moral rendah tidak berhak mengenyam pendidikan lebih tinggi. Karena semua itu akan sangat merugikan masyarakat lainnya. Di saat yang sama pemberdayaan seluruh potensi, minat, bakat, kreativitas, dan keterampilan baik di bidang teknologi, budaya, tradisi, seni, intelektual, sastra dan sebagaianya haru smendapatkan prioritas utama dalam pendidikan. Sebagaimana diungkap dio atas semua itu mendapat duiklunganh penuh dari politik pemerintah yang sedang berkuasa dan dunia industri yang terkait. Pemerintah terus mengawal kerja sama dan jaringan kerja antara lembaga pendidikan dengan dunia industri sebagai langkah untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap negara lain. Sebagaimana juga diungkap di atas industri di sini mencakup industri dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat dan bangsa.

Barangkali inilah konsep pendidikan nasional terpadu yang mungkin masih sangat sederhana dan kurang memadai. Harap dapat dimaklumi karena merupakan gagasan awal sebagai upaya untuk memberdayakan seluruh masyarakat. Terma seluruh masayarakat menjadi sangat penting dalam konteks pendidikan nasional terpadu karena model pendidikan yang sedang berlangung sanpai saat ini ternyata hanya memberdayakan sebagian kecil anggota masyarakat, khususnya yang memilikii kesempatan dan kemampuan untuk mengakses ke pusat kekuasaan. Bagi yang tidakl memiliki akses sama sekali tidak memiliki kesermpatan untuk menikmati keberhasilan pembagunan pendidikan nasional yang visi politknya tidak jelas.

Ikhtitam

Dari beberapa tulisan di atas dapat dipahami di sini bahwa pendidikan Islam merupakan salah satu kekuatan pendidikan nasional. Pendidikan Islam sebagai kelanjutan dari sistem pendidikan tradisional ternyata mendapat perlakuan yang tidak sama dengan pendidikan nasional. Untuk itu layak kiranya diapresiasi adanya gagasan tentang sistem pendidikan nasional terpadu yang bervisi memberdayakan seluruh lapisan masyarakat dengan politik pendidikan nasional yang bertujuan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap negara lain. Dalam konsep pendidikan nasional terpadu ini anggaran dan moralitas merupakan pemegang peran utama dalam kesuksesannya. Anggaran besar tanpa moralitas akan menmunculkan “tikus-tikus intelektual” yang sangat rakus. Pembangunan moralitas harus terus dilaksanakan dari sejak pendidikan dasar, menengah sampai perguruan tinggi, bahkan sampai ketika seseorang telah menduduki sebuah jabatan strategis. Semua ini sebagai upaya untuk meneropong masa depan moralitas bangsa.

Wa Allah A’lam bi al-Shawab

Jangan Curigai Kurikulum Pendidikan Islam

Jangan mencurigai kurikulum di lembaga Islam karena materinya sudah sangat baik, kata Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Muhammad Ali di Surabaya, Senin.

Seluruh materi yang disusun dan dimasukkan sebagai kurikulum pada lembaga Islam sudah sejalan dengan pembangunan karakter bangsa. Tidak ada yang menyimpang dari prinsip ajaran agama yang membawa kedamaian bagi seluruh umat.

Muhammad Ali menyatakan itu di sela kunjungan kerjanya di Surabaya. Di kota itu Dirjen Pendis memantau jalannya pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

Jadi, jangan mencurigai kurikulum yang sudah disusun bermuatan ajaran kekerasan. Apalagi radikalisme yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang rahmatun lil alamin, katanya.

Dirjen Pendis Muhammad Ali mengaku merasa penting memberi penegasan mengenai hal ini terkait adanya penilaian dari pemerhati pendidikan asing.

Kalangan asing, kata Ali, menyebut jika ada tindakan kekerasan pihaknya dituding memasukan muatan ajaran kekerasan dalam kurikulum pendidikan Islam.

Ia mengakui belakangan ini ada pemberitaan di media massa yang menyebut alumni dari perguruan tinggi Islam terlibat dalam aksi teror, melakukan tindakan kekerasan dan mampu merakit bom.

Orang tersebut lalu dikaitkan dengan latarbelakang pendidikannya. Kemudian diberi lebel yang bersangkutan berasal dari lembaga pendidikan Islam. Pandangan dan pemberian lebel seperti itu, menurut Dirjen Pendis, sungguh kejam.

Sebab, perguruan tinggi Islam termasuk lembaga pendidikan di bawahnya tak pernah memasukan materi ajaran kekerasan dalam kurikulum. Karena itu ia berharap semua pihak dapat memberi pencerahan kepada publik bahwa pendidikan Islam yang diajarkan di Indonesia adalah pembawa kedamaian bagi seluruh umat.

Ia berharap berita penculikan dan pencucian otak yang dilakukan di luar kegiatan kampus tidak dikaitkan dengan eksistensi perguruan tinggi Islam, termasuk lembaga pendidikan Islam lainnya.

Pihak kampus sudah memberikan materi pembelajaran yang terbaik bagi anak didik. Karenanya, menurut Muhammad Ali, jangan menilai bahwa peristiwa cuci otak dan radikalisme lalu dikaitkan dengan kurikulum sekolah atau perguruan tinggi Islam.

Ia berharap bagi pihak-pihak yang menaruh curiga bahwa kurikulum di institusi pendidikan Islam tak sesusi dengan asas kedamaian hendaknya dapat mengunjungi lembaga bersangkutan.

“Kita terbuka saja. Semua bisa melihat sebagaimana adanya,” kata Dirjen Pendis Muhammad Ali.[ant/suryanto]

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
%d blogger menyukai ini: